-->

Museum Wayang Kekayon Yogyakarta

Selain koleksi wayangnya yang relatif lengkap, salah satu keistimewaan Museum Wayang Kekayon lainnya adalah sejumlah replika dan bangunan yang menguraikan sejarah Indonesia sejak zaman purba hingga proklamasi kemerdekaan. Termasuk juga sejarah kesenian wayang dari abad 6 hingga 20. Ada berbagai replika bangunan yang menggambarkan tentang perjalanan sejarah tersebut. Mulai dari diorama manusia purba, patung singa Borobudur, kompleks menara air dengan atap berbantuk candi, replika menara kudus, kompleks pancuran bidadari, kompleks Baleranu Mangkubumi, patung Jepang, dan patung Proklamasi yang melambangkan babak sejarah Indonesia sebelum masa kemerdekaan.

Museum dengan Artsitektur Tradisional Jawa

Museum Wayang Kekayon merupakan salah satu museum yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, didirikan atas inisiatif Prof. Dr. dr. KRT. Soejono Parwirohusodo, seorang dokter spesialis kesehatan jiwa. Museum ini didirikan dengan harapan agar generasi muda lebih mengetahui dan memahami kebudayaan adiluhung bangsa. Museum yang dibuat dengan khasanah arsitektur tradisional Jawa berbentuk Joglo ini, menempati 9 unit bangunan dengan luas tanah sekitar 1,1 hektar di tepi Jalan Raya Yogyakarta–Wonosari, km 7.
Ada begitu banyak wayang di sini, mulai dari wayang purwa, wayang beber, wayang kancil, wayang sadat, wayang golek, hingga wayang suket. Hal menarik lainnya yang bisa Anda nikmati disini adalah menyaksikan wayang kancil yang menceritakan dongeng si kancil yang mencuri mentimun. Di museum wayang Anda juga berisikan berbagai jenis wayang, mulai dari wayang kulit, wayang thailand, sampai wayang amerika.
Diambilnya nama Kekayon untuk nama museum ini adalah, Kekayon atau Kayon atau Gunungan merupakan lambang kehidupan di dunia. Oleh karena itu, kenapa pertunjukan wayang selalu dibuka dengan munculnya Kekayon.
Museum Wayang Kekayon sempat mengalami masa kejayaan. Masa dimana museum ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit dan selalu penuh dengan pengunjung. Tiap hari selalu ada wisatawan yang berkunjung ke museum ini, perorangan maupun rombongan. Mereka ingin mnegetahui tentang seluk beluk dunia perwayangan. Namun seiring berjalannya waktu museum ini mengalami kemunduran. Wisatawan mulai jarang berkunjung. Apalagi, setelah gempa melanda Yogyakarta dan merusak beberapa bagian dari bangunan ini. Museum Wayang Kekayon semakin sepi.

Lokasi

Museum Kekayon terletak di Jl. Raya Yogya-Wonosari Km 7 No. 277 Wonosari Wonosari Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Tiket masuk museum ini hanya Rp 7000 per orang, jika Anda ingin memotret harus membayar lagi Rp 10.000.

Museum Arkeologi Gedong Arca


Museum yang terletak di desa bedulu Jalan Raya Tampaksiring, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar ini memiliki beragam koleksi peninggalan purbakala.
Sejarah berdirinya Museum Purbakala ini berawal sejak adanya gagasan untuk memamerkan Benda Cagar Budaya yang berhasil dilestarikan oleh Jawatan Purbakala pada tahun 1950. Adapun penggagas ide semua itu adalah mantan Kepala Dinas Purbakala Bali, yaitu Prof.Dr.R.d. Soejono dan Drs. Soeharto. Sedangkan Museum Arkeologi ini sendiri secara resmi dibuka untuk umum oleh Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 14 September 1974.
Koleksi Museum Arkeologi Gedong Arca saat ini berjumlah 185 buah yang terdiri dari dua kelompok yaitu dari masa prasejarah dan sejarah. Koleksi dari masa prasejarah di mulai dari jaman batu sampai jaman perunggu dan masa sejarah di mulai dari abad ke- 8 M sampai abad ke- 15 M. Koleksi-koleksi tersebut dipamerkan di halaman tengah, halaman dalam dan di depan Padmasana. Koleksi di museum ini berupa Paleolitik, Mesolitik, Neolitik, Perundagian, Sarkopagus, Stupika Tanah Liat, Benda Perunggu, Meterai Tanah Liat, Lingga, Arca Dwarapala, Replika, Keramik, dan Periuk.
Di antara koleksi benda-benda prasejarah ini terdapat juga alat-alat dari batu, tulang dan lain-lainnya. Nah, yang sangat menarik di Museum Arkeologi Gedong Arca ini adalah ada beberapa buah peti mayat (sarkopagus) yang berasal dari berbagai tempat di Bali. Sarkopagus itu pada umumnya berbentuk seperti kura-kura, mempunyai tonjolan pada sisi depan dan sisi belakangnya atau pada sisi sampingnya. Koleksi lainnya adalah stupika dari Pejeng, arca perunggu dan lain-lainnya.

Objek Wisata Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung dari luar terlihat seperti gedung pada umumnya, namun di dalamnya menyimpan banyak sekali benda menarik yang tidak dapat ditemukan di tempat wisata lain. Museum ini dibagi menjadi 2 lantai dengan fungsi dan koleksi yang berbeda-beda pada setiap lantai dan ruangannya. Ada apa saja di museum yang dirancang oleh arsitek Belanda ini?

Lantai 1 Museum Geologi Bandung

Lantai 1 Museum Geologi Bandung terbagi menjadi 3 ruangan yang berbeda, yaitu ruangan tengah, barat, dan timur.

Isi ruang tengah:
  • Animasi kegiatan geologi dan kegiatan museum dalam layar lebar
  • Pelayanan informasi museum
  • Pelayanan pendidikan dan penelitian

bebatuan Museum Geologi Bandung
bebatuan Museum Geologi Bandung
Isi ruang barat:
  • Hipotesis terjadinya bumi
  • Sistem tata surya
  • Tatanan tektonik regional
  • Maket pergerakan lempeng-lempeng aktif kulit bumi
  • Keadaan geologi Indonesia
  • Fosil manusia purba
  • Sejarah evolusi manusia menurut teori evolusi Darwin
  • Berbagai jenis bebatuan: batuan beku, sedimen, dan malihan
  • Pemetaan sumber daya mineral di Indonesia
  • Berbagai jenis peralatan dan perlengkapan lapangan
  • Sarana pemetaan dan penelitian
  • Hasil akhir kegiatan, misalnya peta geologi, geofisika, geomorfologi, gunung api, seismotektonik dan lain-lain
  • Pertunjukkan keadaan gunung berapi aktif di Indonesia, misalnya: Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Krakatau, Gunung Merapi, dan lain-lain.
  • Bebatuan hasil kegiatan gunung api

fosil dinosaurus Museum Geologi Bandung
fosil dinosaurus Museum Geologi Bandung
Isi ruang timur:
  • Sejarah perkembangan dan pertumbuhan makhluk hidup yang mendiami planet bumi dari masa primitif sampai dengan masa modern
  • Fosil dinosaurus Tyrannosaurus Rex Osborn
  • Kumpulan tengkorak manusia purba yang pernah ditemukan di Indonesia
  • Artefak yang digunakan manusia purba, mencerminkan perkembangan kebudayaan dari waktu ke waktu
  • Sejarah pembentukan Danau Bandung
  • Fosil ikan dan ular yang ditemukan dalam lapisan tanah Danau Bandung
  • Artefak yang ditemukan di pinggir Danau Bandung
  • Informasi proses pembentukan fosil
  • Informasi proses pembentukan batubara dan minyak bumi
  • Informasi keadaan lingkungan purba

Lantai 2 Museum Geologi Bandung

fosil ular Museum Geologi Bandung
fosil ular Museum Geologi Bandung
Lantai 2 Museum Geologi Bandung terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu bagian tengah, barat, dan timur.

Isi ruang tengah:
  • Maket tambang emas paling besar di dunia yang berlokasi di Irian Jaya
  • Bebatuan asal Papua (Irian Jaya)
  • Miniatur pengeboran minyak bumi
  • Miniatur pengeboran gas bumi
Isi ruang barat:
Ruangan untuk staf Museum Geologi Bandung

tengkorak manusia purba Museum Geologi Bandung
tengkorak manusia purba Museum Geologi Bandung
Isi ruang timur:
  • Informasi manfaat dan kegunaan batu mineral bagi manusia
  • Gambar penyebaran sumber daya mineral di Indonesia
  • Rekaman kegiatan eksplorasi sumber daya mineral
  • Rekaman kegiatan eksploitasi sumber daya mineral
  • Informasi penggunaan mineral dalam aktifitas sehari-hari secara tradisional
  • Informasi penggunaan mineral dalam aktifitas sehari-hari secara modern
  • Cara mengolah mineral dan energi
  • Informasi berbagai jenis bahaya geologi misalnya tanah longsor, letusan gunung api, dan lain-lain
  • Informasi aspek positif geologi yang berkaitan dengan gunung api
  • Penjelasan cara memanfaatkan sumber daya air
  • Penjelasan pengaruh lingkungan terhadap kelestarian sumber daya alam

Lokasi Museum Geologi Bandung

peta Museum Geologi Bandung
peta Museum Geologi Bandung
Museum Geologi Bandung beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 57, Bandung. Lokasi museum ini sangat mudah dicapai karena berada di tengah kota dan banyak kendaraan umum yang lewat. Bila Anda ingin menggunakan kendaraan umum, maka Anda bisa menaiki angkot dengan nomor 10. Angkot yang bewarna kuning – hijau ini memiliki rute Stasiun Hall – Sadang Serang. Bila menaiki angkot ini, mintalah untuk turun di pertigaan Masjid Pusdai, kemudian setelah turun Anda harus menaiki angkot nomor 05 bewarna hijau – hitam. Angkot ini mempunyai rute Cicaheum – Ledeng dan melewati Museum Geologi Bandung. Museum Geologi Bandung terletak dekat dengan Gedung Sate, salah satu ikon kota Bandung.

Harga tiket masuk dan jam buka Museum Geologi Bandung

Harga tiket masuk Museum Geologi Bandung adalah 2.000 Rupiah untuk pelajar, 3.000 Rupiah untuk wisatawan lokal, dan 10.000 Rupiah untuk wisatawan asing.
Museum Geologi Bandung buka dari jam 9 pagi sampai dengan 15.30 sore pada hari Senin sampai Kamis, dan jam 9 pagi sampai dengan jam 13.30 siang pada hari Sabtu dan Minggu. Museum ini tutup setiap hari Jumat dan hari libur nasional.

Taman Nusa Bali Jejak Arsitektur Indonesia dari Masa ke Masa

Taman Nusa terletak di Desa Sidan, Gianyar, bagian tenggara Bali. Mencakup area seluar 15 hektar, taman wisata budaya ini berlatarkan sisi pegunungan yang hijau, panorama persawahan, hutan, jurang, serta Sungai Melangit. Taman Nusa dibangun dengan mengusung misi menjadikan taman budaya sebagai sarana pelestarian, rekreasi dan pendidikan bagi pengunjung baik lokal maupun mancanegara yang ingin memahami budaya Indonesia dengan cara lebih interaktif.

Konsep pembangunan Taman Nusa ini adalah menampilkan perjalanan waktu bangsa Indonesia dari masa ke masa. Semua tahapan masa tersebut diwakili oleh bentuk karya yang menggambarkan masa saat itu. Di tempat ini Anda dapat memahami perjalanan bangsa ini mulai dari zaman pra-sejarah, masa perunggu, masa kerajaan, Indonesia awal, Indonesia merdeka, Indonesia masa kini, dan Indonesia masa depan.

Terdapat pula Kampung Budaya dimana ada lebih dari 60 rumah tradisional yang dibangun dengan penataan sedemikian rupa sehingga menyatu dengan alam Bali. Mengunjungi kampung ini, Anda berkesempatan mengenal berbagai etnis, budaya dan kerajinan serta kesenian Indonesia. Rumah tersebut mencakup rumah dari Nias, Batak Danau Toba, rumah Dayak di Kalimantan, Toraja di Sulawesi, pendopo Jawa, Bali dan masih banyak lagi. Beberapa bangunan yang mewakili tiap masa dicirikan arsitektur dengan fitur Buddha, unsur Islam, rumah kolonial Belanda, serta pengaruh China untuk arsitektur modern dan Hindu.

Ke depannya, semua rumah tradisional tersebut rencananya akan dihuni orang-orang asli dari daerah dimana sekaligus dijadikan sebagai karyawan di Taman Nusa. Di kawasan ini akan pula dibangun sanggar-sanggar untuk mementaskan berbagai kesenian daerah. Dengan begitu, harapannya pengunjung akan merasakan atmosfer kehidupan tradisonal tiap daerah dalam bentuk perkampungan etnis.

Fasilitas pendukung lainnya di taman ini adalah auditorium besar, ruang pameran, toko-toko suvenir, tempat istirahat, 6 sanggar, restoran Indonesia (Restaurant Dapur Nusa) dan restoran dengan masakan internasional (Restoran Royal Sidan), serta lainnya.

Taman Nusa buka setiap hari pukul 08.30 hingga 17.00 WIB. Untuk informasi selengkapnya, Anda dapat mengunjungi laman berikut: ke www.taman-nusa.com.

Museum Lampung Jejak Masa Lampau

Inilah satu-satunya museum di Provinsi Lampung sekaligus kebanggaan masyarakat di provinsi paling Selatan Pulau Sumatera tersebut. Letak museum ini cukup strategis sebab tak jauh dari pusat kota Bandar Lampung, yakni hanya 15 menit perjalanan.

Dengan memanfaatkan bangunan bergaya arsitektur khas Lampung, museum ini menyimpan beragam benda prasejarah, benda budaya, serta flora dan fauna khas Lampung. Berdasarkan data tahun 2011, Museum Lampung menyimpan sekira 4.735 benda koleksi. Benda-benda tersebut terbagi dalam 10 kelompok, yaitu koleksi geologika, biologika, etnografika, historika, numismatika/heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknografika.

Koleksi terbanyak adalah etnografika yang mencapai 2.079. Koleksi etnografika merupakan benda yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari dan yang menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat Lampung di masa lampau.

Pembangunan Museum Lampung telah dimulai tahun 1975 dan peletakan batu pertama dilaksanakan tahun 1978. Akan tetapi, peresmiannya baru dilaksanakan pada 24 September 1988 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Prof. Dr. Fuad Hasan. Peresmian tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di PKOR Way Halim.

Museum Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto

Museum Tambang Batu Bara Ombilin menjadi pelengkap rentetan museum yang dihadirkan Sawahlunto sebagai  kota warisan tambang kolonial yang kini berwawasan wisata sejarah tambang. Museum ini baru saja diresmikan pada Juni 2014 dan diharapkan menjadi bagian penting tujuan wisata yang dapat disambangi di Sawahlunto.
Museum Tambang Batu Bara Ombilin menyimpan beragam koleksi dari aktivitas penambangan batubara sejak masa kolonial hingga masa kini. Ada peralatan tambang batubara, arsip, kostum penambang, kendaraan pengangkut batubara, foto lama tempo dulu, audio visual, alat kerja penambang, hingga mesin pemilah batubara.Bangunannya sendiri merupakan salah satu gedung bersejarah karena sempatmenjadi rumah peristirahatan Mantan Presiden RI Soeharto. Gedungnya sendiri telah ada sejak 1891.
Saat menyambangi Sawahlunto sempatkan berbelanja kain silungkang di Jalan Lintas Sumatera ruas Sawahlunto-Solok. Di sana berjejer butik, toko dan juga pabrik kain tenun khas silungkang. Salah satunya adalah Toko Tenun dan Songket Silungkang di Dusun Lubuk Nan Gadang Silungkang III, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto.

Rumah Adat yang ada di Indonesia

Rumah Adat yang ada di Indonesia sebenarnya banyak sekali, kalau dikumpulkan dan di share di sini mungkin tidak akan cukup waktu satu minggu buat saya. Hehehe.... Itu karena Indonesia memang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Setiap suku yang ada di Indonesia memiliki banyak rumah adat yang sangat unik dan cantik. Berikut adalah sebagian kecil dari rumah adat yang ada di Indonesia.


1. Provinsi DI Aceh / Nanggro Aceh Darussalam / NAD
Rumah Adat Tradisional : Rumoh aceh
 
2. Provinsi Sumatera Utara / Sumut
Rumah Adat Tradisional : Rumah balai batak toba
 3. Provinsi Sumatera Barat / Sumbar
Rumah Adat Tradisional : Rumah gadang
 
 5. Provinsi Jambi
Rumah Adat Tradisional : Rumah panggung
6. Provinsi Kalimantan Barat / Kalbar
Rumah Adat Tradisional : Rumah panjang 
 7. Provinsi Lampung
Rumah Adat Tradisional : Nuwo sesat
8. Provinsi Jawa Tengah / DI Yogyakarta / Jawa Timur
Rumah Adat Tradisional : Rumah joglo
9. Provinsi Kalimantan Timur / Kaltim
Rumah Adat Tradisional : Rumah lamin
 10. Provinsi Kalimantan Tengah / Kalteng
Rumah Adat Tradisional : Rumah betang
 11. Provinsi Irian Jaya / Papua
Rumah Adat Tradisional : Rumah honai
12. Provinsi Kalimantan Selatan / Kalsel
Rumah Adat Tradisional : Rumah banjar

Tempat Wisata Makam Bung Karno



KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO Sang “Proklamator” berlokasi di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanawetan Kota Blitar Jawa Timur.  KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO telah menjadi ikon bagi Kota Blitar. Bahkan bisa dikatakan kata SUKARNO identik dengan  kata BLITAR, begitupun sebaliknya. Ikon itulah yang membuat kota Blitar menjadi salah satu tujuan wisata ternama di Jawa Timur.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Memasuki KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO dimulai dari sebuah gapura Agung yang menghadap ke selatan. Bangunan utama disebut dengan Cungkup Makam Bung Karno. Cungkup Makam Bung Karno berbentuk bangunan Joglo, yakni bentuk seni bangunan khas masyarakat   jawa.  Makam Bung Karno di apit oleh kedua Orang Tua Beliau, di sebelah  kiri ada  Makam Ayahanda "R. Soekeni Sosrodihardjo" dan di sebelah kanan  ada Makam Ibunda "Ida Aju Njoman Rai". 

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Cungkup Makam Bung Karno diberi nama Astono Mulyo. Diatas Makam diletakkan sebuah batu pualam hitam bertuliskan :Disini dimakamkan Bung Karno Proklamator Kemerdekaan Dan Presiden  Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Dahulu kala, Peziarah hanya bisa melihat batu nisan dari luar kaca penyekat. Dan pada  masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati sebagai wapresnya, dinding kaca yang membalut bangunan makam itu dibongkar total. Dan Kini setiap peziarah yang datang ke joglo makam tersebut bisa langsung menyentuh batu nisan.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Selain berziarah ke makam , di  Areal KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO juga terdapat  perpustakaan Bung Karno yang menyediakan banyak koleksi buku peninggalan sang Proklamator. Di perpustakaan ini, Pengunjung bisa lebih banyak memperoleh informasi tentang segala sesuatu berkaitan dengan sepak terjang perjuangan Bung Karno.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Selain perpustakaan, Areal  KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO juga terdapat Museum Bung Karno yang menyimpan banyak koleksi benda - benda peninggalan Bung Karno. Salah satu koleksi yang paling banyak menjadi daya tarik pengunjung, adalah lukisan Bung Karno. Konon lukisan ini seperti manusia yang masih hidup. Dibagian dada lukisan ini terdapat irama denyut nadi yang berdetak.

KOMPLEK MAKAM BUNG KARNO

Selain menyimpan lukisan dan foto Bung Karno,  museum ini juga menyimpan bendera merah putih yang terbuat dari kain mukena dan sempat dikibarkan di  Rengasdengklok. 

Berkunjung ke tempat wisata lokal andalan Kota Blitar ini, merupakan sarana bagi kita untuk mengenang jasa-jasa beliau sekaligus meneladani nilai Nasionalisme pada sosok Bung Karno.

Masjid Berasitektur Art Deco di Garut

Sekilas mungkin orang tidak akan menyangka apa yang dilihatnya saat di kampung Cipari, Kecamatan Garut adalah sebuah Masjid. Ya, Masjid Cipari atau Masjiid A-Syuro ini memang berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya di Indonesia. Pasalnya, bentuk bangunannya mirip dengan sebuah gereja. Selain itu masjid tertua di Garut ini pun mengadopsi gaya Art Deco yang tak lazim diadopsi oleh sebuah masjid.
Mungkin dari seluruh wilayah di Indonesia ini hanya Masjid Cipari dan Masjid Somobito di Mojowamo Mojokerto, Jawa Timur yang memiliki bentuk mirip gereja. Hanyalah kubah dan menaranya yang menjadi ciri yang nampak dari  bangunan tersebut merupakan masjid.

Menurut catatan sejarahnya , Masjid Cipari ini bukan hanya masjid yang digunakan untuk ritual ibadah saja, namun pernah menjadi markas perjuangan dan pusat pergerakan para ulama pejuang. Masjid inilah yang dipakai para ulama untuk melakukan musyawarah para pejuang kemerdekaan, bahkan  menjadi benteng pertahanan dari serangan luar.

Sejarah Perkembangan Masjid Cipari
Tahun 1895 pertama kali masjid ini dibangun di lingkungan pesantren Cipari. Namun  saat itu wujud masjid Cipari tidak seperti sekarang dan kondisinya masih sangat sederhana. Kemudian sepeninggal sang pendiri pesantren  KH Harmaen, pembangunan masjid kembali di lakukan di bawah pimpinan anaknya yaitu KH Yusuf Tauziri pada tahun 1933.  Pembangunan masjid itu juga di lakukan seiring dengan kemajuan pesat pesantren da bertambahnya jumlah pesantren.

Nah, selain itu perluasan masjid ini juga mempunyai kaitan erat dengan  situasi pergerakan nasional  karena KH Yusuf Tauziri merupakan seorang ketua PSII cabang Wanaraja. Selain itu kemajuan pesantren  juga ditunjang oleh dihapuskannya ordonansi sekolah luar oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 13 Februari 1932 akibat penentangan berbagai organisasi nasional dan Islam, seperti Budi Utomo, Muhamadiyah, PNI, PSII, dan yang lainnya. Masjid ini pun pernah dipakai untuk Muktamar Sarekat Islam se-Indonesia pada tahun 1933-1934.
Memasuki era perang kemerdekaan,  pesantren Cipari memainkan peranannya. Para santri di sana  dididik sebagai pejuang, selain belajar ilmu agama karena pesantren ini menjadi salah satu satu pesantren dari organisasi perjuangan Syarikat Islam.
Masjid ini pun kerap digunakan sebagai tempat untuk latihan perang, pertahanan, bahkan dapur umum para pejuang kemerdekaan. Saat  Agresi belanda ke-2, dibawah komando KH. Abdul Qudus dan KH. Yusuf Tauzirie, masyarakat di wilayah Garut timur dipersatukan dalam laskar Hizbullah, yang diantara angggotanya kemudian menjadi bagian dari tentara Siliwangi.
Nah, pada waktu pemberontakan DI/TII masjid ini sempat dijadikan tempat pengungsian, perawatan pejuang yang terluka ketika kembali dari hijrah ke Yogyakarta, tempat perlindungan para pejuang dan keluarganya.
Masjid ini pernah menjadi target serangan DI/TII, kurang lebih 22 kali mesjid ini diserang oleh DI-TII. Namun, saking tebal dindingnya yang lebih dari 40 sentimeter, masjid ini bisa bertahan dan kini masih tegak berdiri dengan kokoh. Lubang-lubang bekas peluru yang terdapat di jendela menara masjid menjadi saksi bisu serangan tersebut.
Masjid Cipari yang Art Deco
Melihat bentuk bangunan dari Masjid Cipari ini memang sangat mirip layaknya sebuah gereja.  Bentuk bangunannya  memanjang dengan pintu utama yang terletak  di tengah-tengah  muka bangunan dus keberadaan menaranya yang terletak di ujung bangunan  di atas pintu utama. Dari bentuk dan posisi menara dan pintu utama tersebut, bangunan ini memang menyerupai sebuah bentuk bangunan gereja.
Mengenai langgam Art Deco, belum ada catatan sejarah yang mengatakan mengapa masjid in mengadopsi langgam Art Deco untuk bangunannya. Langgam Art Deco pada masjid ini tampak dari pengolahan fasad bangunannya yang  berbentuk geometris. Arsitektur Art Deco yang dilahikan oleh sekelompok arsitek Amsterdam School dari Belanda ini memang memiliki memiliki ciri elemen dekoratif geometris yang tegas dan keras
Pola-pola dekorasi geometris masjid yang berulang di atas material batu kali memperlihatkan dengan jelas langgam ini. Selain itu, garis horizontal yang halus pada sisi samping kanan maupun kiri juga mencirikan langgam yang sama. Bentuk menara dan atapnya yang menyerupai kubah dengan beberapa element dekorasi pada bagian samping maupun puncaknya juga mengingatkan pada langgam ini.
Menara masjid berketinggian lebih kurang 20 meter ini menarik perhatian bahkan seperti menjadi eye catcher pada bangunan masjid. Mungkin sekadar simbol untuk menandai bahwa bagunan ini bukan gereja melainkan masjid, maka diletakkanlah bulan sabit di ujung menara. Terdapat beberapa lantai pada interiornya, dengan lantai teratas merupakan ruangan sempit berlantai pelat baja yang dikelilingi semacam balkon kecil yang juga daripelat baja.
Dalam ruangan bangunannya terdapat ruang mihrab berupa penampil yang menempel di dinding arah kiblat. Sementara, ruang shalatnya pun lebih mirip ruang kelas yang dapat dimasuki dari pintu di sebelah utara dan selatan atau dari pintu timur yang terletak di antara ruang naik tangga. 
Lokasi Masjid
Batas-batas mesjid sekarang, di sebelah utara adalah Kampung Pinggirsari dan Kampung Tegalkiang Kecamatan Sukawening, selatan adalah Kampung Babakan Cipari dan Kampung Ci Kecamatan Pangatikan, barat adalah Pasar Karangsari Kampung Cimaragas dan pesawahan Kecamatan Pangatikan, dan sebelah timur adalah sawah dan makam Kecamatan Sukawening 
Cara mencapainya
Masjid Cipari Wanaraja dapat dicapai dari Terminal Cileunyi Bandung ke Terminal Ciawitali Garut Kota dengan waktu tempuh ± 1,5 jam. Kemudian menuju lokasi dengan menggunakan angkutan kota satu kali jurusan Wanaraja sekitar 50 menit dengan jarak ± 4 Km dari Kecamatan Wanaraja dan ± 12 Km dari ibukota kabupaten. Selanjutnya dapat dicapai dengan naik ojeg dengan jarak ± 1 km sekitar 5-10  menit. Mesjid Cipari Wanaraja berada di dalam Kampung Babakan Cipari, Desa Cipari, Kecamatan Pangatikan, pada posisi koordinat: 7º 09’ 171” LS 107º 59’ 764’’ BT. (berbagai sumber)

Taman Selecta, Taman Favorit Petinggi Negara

Presiden pertama Soekarno, Megawati Soekarno putri, Moh Hatta, Ali Sadikin, Jendral Soemitro belum lagi sederat nama lainnya pernah singgah dan menginap di Vila-vila taman wisata ini. Yup Taman Selecta namanya, sebuah taman 13 Km dari Malang yang berada di  terletak di desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji.

Taman Selecta ini merupakan tempat peristirahatan yang umurnya sudah cukup tua karena  di bangun sejak jaman Belanda. Adalah seorang Belanda bernama Reyter Dewild yang awalnya membangun tempat peristirahan ini untuk kaum borjuis Eropa. Dengan luas 20 hektar dan letaknya 1100 M dari permukaan laut, taman ini merupakan sebuah tempat yang lengkap dengan fasilitas hiburannya dari  kolam renang, lapangan tenis, bungalow dan taman-tamannya.
 Seperti yang dikatakan di muka, para petinggi negara tak jarang menyempatkan waktunya untuk menginap di taman wisata ini.  Nah, salah satu villa yang cukup bersejarah di sana adalah Villa De Brandarice  yang sekarang bernama vila Bima Shakti.

De Brandarice ini menjadi semacam saksi bisu sejarah nasional negeri ini. Saat itu di sana, Bung Karno sering terlihat  berolah raga kecil dan berjemur diri di pagi hari, siangnya mengunci diri di kamar dan sorenya menikmati pemandangan alam yang tampak indah dari ruang santai.
foto:www.peponkz.student.umm.ac.id
Bung Karno dan Bung Hatta pun pernah tinggal di tempat wisata ini ketika terjadi Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Memang tidak ada yang tahu mereka tinggal selama berapa lama. Beliau datang dan pergi karena masa perang, tetapi Bung Karno kerap tinggal di kawasan itu pada masa setelah tahun 1950 saat kondisi negara relatif lebih aman.
 Bung Hatta pada 1956 menjelang saat Konferensi KNIP, pernah juga bermalam di Villa Bima Shakti dan menorehkan “Keris Semangat” tentang perekonomian masa depan negeri ini. Disitu, Bapak Perekonomian Indonesia ini menulis “Tinta Emas” agar membangun ekonomi melalui perkoperasian dan dimulai dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Selain Bung Karno dan Bung Hatta,  Ali Sadikin Gubernur DKI era 70-an pernah datang vila Bima Sakti. Begitu pun dengan  Jenderal Sumitro yang pada tahun 1968 pernah singgah ke Selecta dan meminta kolam renang taman rekreasi itu dijadikan sebagai pulau terapung. Tak hanya itu, di era  Megawati Soekarno Putri  masih menjabat sebagai Presiden juga pernah transit di  Taman wisata ini.
Yah, memang Taman Selecta ini teramat spesial, belum lagi soal panoramanya. Bangunan Villa Bima Shakti ini merupakan tempat tertinggi di alam pegunungan Kota Batu. Dari sana seluruh Kota Batu dan sekitarnya dapat dipandang dan keindahannya bisa dinikmati tanpa halangan, semua keindahan dari kejauhan mampu diterobos mata. Villa Bima Shakti yang berada di puncak bukit yang dikelilingi Gunung Panderman, Gunung Arjuno, Gunung Anjasmoro, serta Gunung Welirang yang selalu mengepulkan asap belerang.
Tak hanya itu, eksotisme panorama alam pegunungan yang indah dan sedap dipandang mata serta penuh nilai historis. Taman Selecta melambung menjadi pioner pariwisata di Kota Wisata Batu Jawa Timur, bahkan di Indonesia baik  di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara seperti dari Belanda, Taiwan dan Malaysia. (berbagai sumber)

Museum Ratusan Naskah Kuno

Museum memang sejatinya menyimpan sekaligus melestarikan benda-benda peninggalan sejarah masa lalu bangsa. Tidak hanya itu museum juga mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi Kebudayaan dan llmu Pengetahuan.
Seperti yang kita tahu di museum itu terdapat berbagai macam benda kuno, dari patung, artefak, atau benda-benda bersejarah lainnya, termasuk juga naskah kuno. Nah, di beberapa museum di Indonesia ada museum yang menyimpan banyak koleksi-koleksi naskah yang umurnya rata-rata lebih tua dari museumnya itu sendiri, di museum mana sajakah yang banyak menyimpan koleksi-kolksi kuno itu
Museum pertama adalah Museum Sri Baduga di Jalan Peta, Bandung, di museum yang luasnya mencapai 8.415,5 m2 ini memiliki koleksi naskah kuno yang lumayan banyak, yaitu kurang lebih 147 naskah kuno. Yang berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat Naskah kuno yang dikoleksi seperti Cacarakan (Haracaraka-Jawa), Jawa kuno, Pegon (Arab Sunda), Sunda kuno, dan naskah yang lainnya. Naskah-naskah tersebut ditulis dengan menggunakan berbagai huruf kuno seperti huruf Sunda kuno, Jawa Kuno hingga bertuliskan huruf Palawa.
foto:www.toscaqueen-museumsribaduga.blogspot.com

Naskah-naskah itu berisi ajaran sastra, agama, pedoman hidup, kesehatan, adat istiadat, dan silsilah. Hampir sebagian besar naskah itu dipengaruhi oleh budaya India karena kebanyakan berasal dari zaman yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.
Keberadan naskah-naskah itu memiliki arti dan nilai yang tinggi salah satunya karena mengungkapkan kondisi sosial budaya mayarakat Sunda tempo dulu yang dituliskan di daun lontar, kertas Eropa, logam dan kayu
Kedua, ada Museum Bengkulu yang mempunyai jumlah koleksi yang hampir sama dengan museum Sri Baduga, yaitu sekitar 120-an koleksi. Naskah koleksi dari museum ini sebagiannya adalah naskah kuno "ka ga nga. Ka ga nga ini merupakan tulisan asli masyarakat Melayu Bengkulu yang berasal dari aksara semit kuno, proto melayu, selain di Bengkulu ka ga nga juga terdapat di Jambi, dan Lampung tulisan ini berasal dari aksara Palawa. Huruf ka ga nga untuk masyarakat Suku Serawai di Bengkulu dikenal dengan tulisan ulu atau serat ulu, sedangkan untuk suku rejang dikenal dengan tulisan rencong.
foto:www.dennytipis.wordpress.com
Huruf ka ga nga sendiri  lahir menjelang abad ke 12, huruf ini merupakan bagian dari  tulisan aksara semit kuno atau lebih spesifik dari proto sumatra bahkan di Bandung ka ga nga juga dikenal lahir dari aksara Palawa atau naskah Melayu
Dari beberapa naskah yang dikoleksi di museum ini kebanyakannya adalah tulisan yang berisikan kitab pengobatan, penyakit, kisah atau kejadian alam semesta, cerita tentang sang kancil, hukum adat, pantun, tata cara hubungan kaum muda, tata cara bertani, pantun, serta jampi dan mantra. Tulisan ka ga nga untuk suku Rejang Lembak terdiri atas 23 kata sedangkan Serawai Pasemah terdiri atas 28 kata dan memiliki 13 tanda baca. (berbagai sumber)

Benteng Portugis di Indonesia

Kenapa banyak sekali benteng-benteng peninggalan bangsa portugis di wilayah timur Indonesia, dan jarang sekali kita temukan di barat Indonesia? Ya, mungkin jawabnya karena dulu di wilayah timur Indonesia kaya akan rempah-rempah yang sangat diperlukan oleh bangsa portugis, entah untuk dikonsumsi sendiri atau di perdagangkan kembali
          Saking banyaknya rempah-rempah mereka lantas tergiur untuk membawanya. Namun perjalanan dari nusantara ini ke negaranya memakan waktu yang sangat lama terlebih lagi kapal yang mereka naiki jelas-jelas berbeda dengan kapal zaman sekarang. Alih-alih butuh tempat sementara untuk menetap dan mengatur segala sesuatu termasuk urusan administratifnya, mereka pun membuat benteng disamping sebagai tempat untuk menyimpan rempah-rempahnya.
Ukuran benteng yang mereka buat pun tidak  kepalang kecil melainkan berukuran besar yang terbuat dari material yang kokoh, cukup untuk menampung orang-orangnya dari mereka yang hanya sekedar kuli angkut sampai perwira atasan. Benteng pun kerap dilengkapi dengan sistem pertahanan dari senjata sampai meriam-meriam untuk mempertahankan diri apabila diserang oleh rival dagang atau pun masyarakat lokal. Nah, dimana saja kah daerah-daerah di Nusantara ini yang banyak benteng portugisnya:

             Pertama ada di Benteng Portugis yang bernama Benteng Tohula yang tepat berada di tengah kota Tidore. Benteng Portugis Tohula berasal dari nama pelabuhan Tohula hasil karya arsitektur Spanyol yang letaknya tepat didepan benteng.  Dari benteng ini memang akan bisa melihat dengan jelas wilayah pantai sehingga pergerakan kapal musuh bisa terpantau sejak dini.
Benteng Tohula
Selain Benteng Tohula, di Tidore ada pula  Benteng Benteng Tore yang juga merupakan sisa peninggalan Portugis dan Belanda.Kedua benteng ini letaknya berdekatan, sama-sama di pusat kota serta dekat dengan Kedaton Kie, Singgasana Sultan Tidore.
Beralih ke Maluku tepatnya di Pulau Neira, disana  Benteng Belgica. Benteng ini pada awalnya adalah sebuah benteng yang dibangun oleh Portugis pada sekitar abad-1. Lama setelah itu, di lokasi benteng Portugis tersebut kemudian dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada tanggal 4 September 1611. Benteng tersebut kemudian diberi nama Fort Belgica, sehingga pada saat itu, terdapat dua buah benteng di Pulau Neira yaitu; Benteng Belgica dan Benteng Nassau. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.
Kemudian ada pula Benteng Tolukko merupakan salah satu benteng peninggalan Portugis yang berada di wilayah Maluku Utara khususnya di Ternate. Portugis ini mulai masuk dan menduduki wilayah Ternate sejak tahun 1512 dan benteng dibangun dengan tujuan sebagai tempat pengamanan misi dagang mereka serta kepentingan pengintaian musuh, bangunan ini mulai di bangun oleh Portugis pada tahun 1540.
Awal mula pembentukan benteng ini diberi nama Benteng Santa Lusia yang dibangun oleh Fransissco Serrao, salah satu yang menarik di Benteng Tolukko adalah ada suatu ruangan bawah tanah yang langsung tembus ke wilayah laut di sekitar benteng namun ruangan ini sekarang telah ditutup dengan alasan tertentu, hal ini juga di buat sebagai salah satu upaya portugis untuk menghindar dari musuh.
Benteng Tolukko
Pada tahun 1533 terjadi sebuah pemberontakan oleh rakyat Maluku, ini menghasilkan perebutan Benteng Tolukko, dan yang akhirnya Benteng Tolukko di duduki oleh pihak Indonesia. Tak lama Indonesia mendududuki benteng, bangsa Belanda mulai masuk dan akhirnya benteng ini pun direbut oleh pihak Belanda, tepatnya pada tahun 1602, tahun 1610 beberapa bagian benteng dilakukan renovasi oleh Belanda.
Penyebutan Benteng Tolukko dilakukan karena adanya sultan Ternate, yaitu Sultan Mandar Syah yang memeberikan penghormatan kepada Tolukko, sehingga makalah benteng ini disebut benteng tolukko.
Di Kota Ternate juga ada Benteng peninggalan Portugis yang bernama Benteng Gamlamo di daerah Kastela yang dibangun pada tahun 1522. Begitu pula dengan Benteng Kota Janji yang terletak di Selatan pusat kota Ternate. Berdekatan dengan Benteng Kota Janji ada Benteng Kalamata yang berdiri dekat dengan garis pantai dan dibangun pada tahun 1540.  (berbagai sumber)

Jembatan Merah dan Pertumpahan Darah

Ada satu kesamaan kenapa jembatan-jembatan di bawah ini dikatakan sebagai jembatan merah, ya jembatan merah ini ternyata tidak hanya ada di kota pahlawan saja tetapi juga berada di wilayah lain Indonesia, misalnya di Bogor, Balikpapan, dan Kerinci walaupun tidak merah warnanya tapi masyrakat sekitar menyebutnya sebagai jembatan merah
            Merahnya sebutan bagi jembatan-jembatan itu karena sejarahnya yang kelam. Pasalnya, di jembatan itu dulunya pernah terjadi peristiwa pertumpahan darah antara pejuang Indonesia melawan penjajah di zaman revolusi fisik. Nah, dari saking banyaknya darah  para pejuang dan lawannya yang tumpah di jembatan itu, maka jembatan itu pun dinamakan Jembatan Merah.
            Yang pertama seperti yang kita ketahui adalah Jembatan Merah di Surabaya. Jembatan yang melintasi sungai Kalimas ini sungguh melegenda dan sepertinya tak ada satu pun orang Surabaya yang tidak mengenal jembatan ini.  Dibangun beratus-ratus tahun yang lalu, awalnya jembatan adalah jembatan kayu dan dibuat karena kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC tahun  11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda. 

sumber foto: www.akumassa.org

Sejak saat itu daerah Jembatan Merah menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan vital yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya. Dengan kata lain, Jembatan Merah merupakan fasilitator yang sangat penting pada era itu.  Tak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.
Dalam perkembangannya, Jembatan Merah ini berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu.
Nah, kenapa dimakan jembatan merah? Ya karena dilokasi tersebut pernah terjadi pertumpahan darah antara pejuang dengan penjajah.  Di tempat ini juga Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan arek-arek Suroboyo. Jembatan Merah ini pun menjadi saksi bisu betapa gigih dan beraninya arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya.
Kedua ada Jembatan Merah di Balikpapan, masih di zaman perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1945-1947, Jembatan Merah ini juga menjadi saksi bisu  pertempuran para pejuang Balikpapan.
Saat itu para pejuang Balikpapan menggunakan taktik gerilya untuk melawan Belanda yang mencoba menguasai kembali Balikpapan. Nah, di jembatan ini kerap kali pecah pertempuran antara pejuang dan tentara Belanda. Tak pelak, jatuh korban dari pihak pejuang yang gugur dalam pertempuran dengan tentara Belanda di jembatan ini.
Setiap usai pertempuran, jembatan ini selalu penuh dangan bercak darah dari tentara Belanda dan pejuang yang terluka. Karena itu oleh para pejuang jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Merah. Jembatan Merah tersebut kini masih ada. Dan setiap harinya dilewati kendaraan yang melintas dari dan ke kebon sayur
Ketiga, Jembatan merah di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci ini. Akan tetapi walaupun jembatan itu dibilang sebagai jembatan merah, namun warna jembatan ini bukanlah  merah melainkan kuning.
Penamaan jembatannya sendiri sebagai jembatan merah karena dulunya, seperti kedua jembatan merah di atas jembatan ini dahulunya juga merupakan tempat pertumpahan darah dari pahlawan Kerinci dengan para penjajah.
Di jembatan itu banyak terjadi pertempuran karena pada Agresi Militer II tahun 1949, Belanda masuk ke desa Pulau Tengah dan membuat camp sekitar 50 meter berjarak dari jembatan. Nah, dengan adanya camp tentara Belanda di dekat jembatan tersebut membuat para petinggi Belanda menjadikan jembatan itu sebagai tempat untuk mengeksekusi penduduk Indonesia yang pro dengan republik.
Tentara Belanda tidak memberikan sedikit keringanan bagi warga Kerinci saat itu, setiap warga yang mau membayar “Tebus Nyawo”, maka tidak akan dibunuh. Selain sebagai tempat menghabisi nyawa rakyat Indonesia, jembatan ini juga dimanfaatkan oleh warga dan tentara perlawanan untuk mengintai para penjajah pada malam hari. Tak sedikit tentara belanda yang berhasil dibunuh oleh warga di bawah jembatan itu.
          Hampir setiap harinya terjadi pertumpahan darah di jembatan tersebut, sehingga setelah kemerdekaan pada tahun 1950-an, saat jembatan tersebut dibuat dengan besi, jembatan ini pun dinamakan jembatan merah. (berbagai sumber)

Masjid di bawah tanah

Jika anda pernah membaca atau melihat secara langsung Masjid Pintu Seribu di Tangerang, pastilah anda akan berpikir masjid itu bukanlah seperti masjid pada umumnya bukan?. Nah, seperti halnya dengan tempat beribadah umat muslim yang satu ini. 

Adalah masjid bawah tanah, yang merupakan sebuah masjid yang  tidak dibangun di atas permukaan tanah seperti lazimnya sebuah masjid dibangun, melainkan didirikan di dalam tanah alias di bawah tanah. Sedikit memang yang berani menggunakan konsep mesjid dibawah tanah, nah dibawah ini ada beberapa mesjid di bawah tanah yang bisa ditemukan di wilayah Indonesia.

1.Masjid Bawah Tanah Taman Sari
Masjid Bawah Tanah ini berada  di Komplek Situs Taman Sari, Yogyakarta. Sesuai dengan namanya mesjid ini memang letaknya berada di bawah tanah dan berbentuk melingkar  yang terdiri atas dua lantai, dimana lantai bawah digunakan oleh jemaah wanita dan lantai atas untuk jemaah pria. Di setiap lantai dapat ditemui lubang tempat imam memimpin ibadah.
sumberfoto: www.n1nt1.blogspot.com
 Lantai atas dan lantai bawah terhubung oleh lima buah tangga yang saling terhubung dan di bawahnya terdapat kolam yang konon digunakan untuk berwudhu oleh para jemaah. Mesjid  bawah tanah ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke I.


2.Masjid Gua Muhammad
Selain itu juga ada Masjid Gua Muhammad, Masjid jelas tidak bisa dilihat dari luar karena lokasinya berada tepat di bawah Masjid Agung Wisnu Manunggal, di Dusun Losari, Desa pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Kenapa dinamakan masjid ini dengan Go Muhammad? Para jamaah disana memberinya nama itu lantaran sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Untuk sampai di masjid ini, perjalanan harus ditempuh sekitar 14 kilometer dari arah Kota Mojokerto. Sesampai di Masjid Agung Wisnu Manunggal, setiap peziarah akan mendapati bangunan masjid biasa. Untuk sampai ke Masjid Goa Muhammad, setiap peziarah harus melewati gapura di sebelahtimur bangunan induk masjid. Gapura itu merupakan pintu menuju masjid bawah tanah.
Di samping timur bangunan induk terdapat sebuah lorong sempit. Dengan kedalaman sekitar 5 meter hingga 7 meter, setiap peziarah yang datang harus masuk secara berjajar ke belakang. Sebab lorong itu hanya bisa dilewati seorang saja. Di sepanjang dinding lorong yang terbuat dari tanah dan pasir, tertempel tulisan nama-nama Allah atau pujian terhadap Rasulullah Muhammad SAW, seperti beberapa penggalan bacaan Maulid-Diba dan Barzanji.
Sejak ditemukan tahun 1995 dan usai dibangun tahun 1997 lalu, Masjid Goa Muhammad ini memiliki ruang utama bawah tanah yang terdiri atas tujuh pintu. Tujuh pintu lorong ini digunakan sebagai baris salat.Setiap lorong bisa ditempati sekitar 7 orang untuk salat. Sehingga saat salat jamaah, masjid bawah tanah ini cukup menampung sekitar 50 orang dengan seorang imam.  Masjid ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi setiap orang untuk lebih khusyuk saat berdzikir atau salat. Sebab saat berada di dalam tanah, tiada yang terdengar kecuali keheningan dan kegelapan. (berbagai sumber)

Situs Patiayam bukti Peninggalan Purbakala di Kudus

Situs Patiayam merupakan salah satu obyek wisata bernuansa purbakala yang terdapat di Kudus, tepatnya di Desa Terban, di salah satu bukit gunung Muria. Sebagai tempat yang mengandung fosil seperti diketahui bahwa gunung Muria dahulu bergabung dengan pulau Jawa hanya selama zaman glasial, yaitu sewaktu air laut surut. Dan sekarang bergabungnya gunung Muria dengan pulau Jawa adalah karena adanya pelumpuran di sepanjang daratan Semarang-Rembang. Di kaki selatan gunung Muria, terbentuk suatu pusat erupsi yang tersendiri yaitu Patiayam. Di daerah tersebut ditemukan endapan vulkano-sedomenter yang banyak mengandung fosil vertebrata yang berumur kurang lebih sekitar 800.000 tahun.

Patiayam berada di salah satu bukit gunung Muria, yaitu gunung Slumpit, terdapat konkresi breksi vulkanik yang diikuti oleh puluhan materi pasir dan lempung tufaan. Situs tersebut tak lain merupakan endapan purba hasil letusan gunung Muria. Fosil-fosil yang berhasil ditemukan pada situs ini adalah sisa-sisa manusia purba Homo Erectus berupa 1 buah gigi prageraham bawah dan 7 buah pecahan tengkorak manusia, yang diternukan oleh Dr. Yahdi Yain dari Geologi ITB Bandung pada tahun 1979. Temuan lainnya berupa tulang belulang binatang purba antara lain : Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas sp (sejenis Gajah), Rhinoceros sondaicus (badak), Bos banteng (sejenis banteng), Crocodilus, sp (buaya), Ceruus zwaani dan Cervus/Ydekkeri martim (sejenis Rusa) Corvidae (Rusa), Chelonidae (Kura-Kura), Suidae (Babi Hutan), Tridacna (Kerang laut), dan Hipopotamidae (Kudanil). Fosil-fosil yang ditemukan di situs Patiayam ini memiliki keistimewaan, yaitu sebagian situs yang ditemukan bersifat utuh.
Namun walaupun begitu, menurut pemaparan Tim Balar, perawatan terhadap benda bersejarah tersebut hingga saat ini masih kurang optimal terutama karena belum tersedia tempat penyimpan berbagai benda itu secara memadai.

Sebagian benda itu, katanya, disimpan di kantor dinas terkait dan lainnya di rumah warga yang disewa untuk penyimpanan sementara waktu.
Oleh karena itu, diharapkan pemerintah daerah bisa memberikan solusi untuk memecahkan masalah ini, demi kelangsungan Situs Patiayam agar bisa setara dengan situs-situs purbakala lainnya seperti Situs Purbakala Sangiran dan Cipari.

Hotel Surabaya Hotel Tempo Dulu


Hotel Surabaya terletak di Kebonjati. Hotel yang dibangun pada tahun 1884. Meskipun hotel tidak mewah dan tidak besar tapi arsitektur bangunan memiliki gaya yang unik. Gaya arsitektur bangunan adalah campuran gaya Belanda dan Cina, yang romantisme gaya arsitektur dengan sentuhan gaya arsitektur Cina.

Ciri khas bangunan ini juga memancing orang untuk melihat gedung ini berada di gedung menara. Asal-usul kompleks Hotel Surabaya adalah rumah bagi keluarga Cina pada tahun 1884. Selanjutnya difungsikan sebagai hotel sejak 1930. Hotel ini terletak di dekat stasiun kereta api Bandung The.

Hotel itu sendiri terdiri dari tiga bangunan, bangunan pertama dibangun pada tahun 1886 di belakang gaya neo-klasik dan dibangun untuk menyambut kehadiran jalur kereta api Batavia (Jakarta) - London ditandai Bandung stasiun dibuka pada tahun 1884. Kaca menggunakan kaca warna, bukan kaca patri, katanya. Sementara itu, bangunan kedua terdapat menara ini dibangun antara tahun 1900 dan 1910 dalam gaya art nouveau, dan bangunan ketiga adalah gaya art deco.

Hotel Oranje Surabaya

Oranje Hotel atau Hotel Majapahit didirikan oleh pedagang bernama Lucas Martin Sarkies dari Armenia. Hotel ini adalah seorang arsitek James Afprey, seorang Inggris yang membangun hotel ini pada tahun 1910 dengan mengadopsi gaya arsitektur Art Nouveau. Keluarga ini Sarkies dikenal berkecimpung dalam bisnis perhotelan sebelum mendirikan hotel ini, keluarga Sarkies telah mendirikan banyak hotel di Asia .

Tahun 1911 adalah tahun yang bersejarah untuk pertama kalinya karena hotel dibuka dengan nama "Hotel Oranje". Dalam perkembangannya, pada tahun 1931 ada penambahan bangunan hotel di depan pintu masuk yang lama, sebagian besar pintu masuk hall dibangun dalam gaya Art Deco oleh arsitek Prof Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker. Tepatnya pada 19 September 1945 terjadi "insiden bendera" di Kolonialis Belanda mengibarkan bendera kebangsaan di menara hotel. Kas, kemarahan nasionalis Indonesia dan naik ke menara dan merobek bagian biru dari bendera Belanda yang kemudian menjadi bendera Indonesia. Nama Hotel Oranje digunakan sampai tahun 1950-an. Pada saat itu, hotelnya dinasionalisasi dan namanya diubah menjadi Hotel Majapahit. Kau di sana, waktu untuk melihat kamar kamar bersejarah yang dulunya digunakan oleh aktor Charlie Chaplin. Komedian yang populer di 30-an itu tidak pernah tinggal di hotel ini pada tahun 1936. Kamar yang diberi nama Freedom Kamar dengan nomor kamar 33.

Hotel Salak di kota hujan

Hotel Salak di kota Bogor hujan yang usinya sangat tua melewati ratusan tahun, itu awalnya bernama Bellevue Dibbets Hotel yang dimiliki oleh gubernur Hindia Belanda pada waktu itu. Selain tempat untuk beristirahat dan bersantai, hotel ini dirancang dengan baik untuk pertemuan bisnis dan administrasi dari pemerintah Belanda.

 Seiring waktu, Jepang mungkin membutuhkan tempat yang besar untuk menampung pasukan mengikuti arsenal instrumen, dalam fungsi era hotel Jepang kolonial berubah menjadi markas militer Jepang. Nah, setelah Jepang mundur dari negara itu, kepemilikan hotel yang diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan namanya diubah menjadi Hotel Salak.

Hotel ini sangat istimewa sebagai penginapan tujuan untuk sebuah event atau pertemuan internasional yang pernah dilakukan di Hotel yang terletak di kaki Gunung Salak, misalnya pada tahun 1955 diadakan pada Pertemuan Konferensi Asia-Afrika Persiapan, di samping pertemuan APEC pada tahun 1994 acara yang pernah dilakukan dalam hal ini.

Selain Hotel Salak di Bogor juga Baroe Hotel Pasar, dilihat dari namanya saja mengingatkan kita ke salah satu tempat di Jakarta, tapi tidak ada di antara hanya memiliki nama yang sama. Hotel ini tanpa peringatan setua Hotel Salak atas karena dibangun pada tahun 1873.

Museum Sumpah Pemuda Jakarta

Museum Sumpah Pemuda adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang berada di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat dan dikelola oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.


Museum ini dibuka untuk umum, setiap hari Selasa sampai dengan Jumat dari pukul 08.00 hingga 15.00 UTC+7, setiap Sabtu dan Minggu pada pukul 08.00—14.00 WIB, dan setiap hari Senin dan hari besar nasional, museum ini ditutup untuk umum.

Museum ini memiliki koleksi foto dan benda-benda yang berhubungan dengan sejarah Sumpah Pemuda 1928, serta kegiatan-kegiatan dalam pergerakan nasional kepemudaan Indonesia. Museum Sumpah Pemuda ini didirikan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1972 dan menjadi benda cagar budaya nasional.

Koleksi
  1. Foto kegiatan organisasi pemuda, sebanyak 2.117 koleksi.
  2. Bendera organisasi, sebanyak 35 koleksi.
  3. Stempel, sebanyak 11 koleksi
  4. Biola Wage Rudolf Supratman, sebanyak 1 koleksi
  5. Patung dada tokoh pemuda, sebanyak 8 koleksi.
  6. Patung tokoh pemuda, sebanyak 11 koleksi.
  7. Perlengkapan pandu, sebanyak 9 koleksi.
  8. Jaket angkatan 1966, sebanyak 2 koleksi.
  9. Kesatuan AKSI buruh PN Sabang Merauke Djakarta, sebanyak 16 koleksi.
  10. Buletin KAMI kons Bandung dan Bogor Djakarta 1967, sebanyak 13 koleksi.
  11. KAMI Medan – Sumatera Utara, sebanyak 8 koleksi.
  12. KAPPI Djaja Menteng Radja, Djakarta, sebanyak 23 koleksi.
  13. KAPI Komisariat Diponegoro 80, Djakarta Raya, sebanyak 8 koleksi.
  14. Sambutan gubernur kepala daerah khusus ibukota Djakarta dalam memperingat “Brigadi Merah” Ade Irma, sebanyak 17 koleksi.
  15. KAPI Jaya Salemba Raya Djakarta, sebanyak 62 koleksi.
  16. KAMI pusat Djakarta, sebanyak 43 koleksi.
  17. Statemen angkatan 66 kesatuan AKSI di Jakarta, sebanyak 8 koleksi.
  18. Kesatuan AKSI "KAPPI" pusat Djakarta Utara, sebanyak 20 koleksi.
  19. Kursi, sebanyak 5 koleksi.
  20. Pewarta IPINDO, sebanyak 4 koleksi.
  21. Naskah statemen perjuangan 66, sebanyak 90 koleksi.
  22. Statemen perjuangan 66, sebanyak 50 koleksi.
  23. Dokumen perjuangan 66, sebannyak 18 koleksi.
  24. Buletin KAPPI, sebanyak 60 koleksi.
  25. Dokumen Brigade Ade Irma, sebanyak 104 koleksi.
  26. Proses persiapan dan pelaksanaan musyawarah luar biasa dan up-grrading se-Indonesia, sebanyak 23 koleksi.
  27. Lukisan, sebanyak 4 koleksi.
  28. Vespa, sebanyak 1 koleksi.
  29. Diorama, sebanyak 1 koleksi.
  30. KAMI konsultan – Yogyakarta, sebanyak 5 koleksi.
  31. Anggaran dasar KAMI, sebanyak 24 koleksi.
  32. Inventarisasi statemen angkatan 66, sebanyak 13 koleksi.
  33. Piringan hitam, sebanyak 1 koleksi.
  34. Piagam penghargaan Wage Rudolf Supratman, sebanyak 2 koleksi.
  35. Atlas sekolah zaman Belanda, sebanyak 1 koleksi.
  36. Sabuk Hizbul Wathan, sebanyak 1 koleksi.
  37. Bintang Mahaputra, sebanyak 1 koleksi.
  38. Replika biola Wage Rudolf Supratman, sebanyak 1 koleksi.
  39. Pahatan marmer, sebanyak 3 koleksi.
  40. Monumen persatuan pemuda, sebanyak 1 koleksi.
  41. Lampu gantung, sebanyak 2 koleksi.
  42. Maket gedung museum sumpah pemuda, sebanyak 1 koleksi.
  43. Duratran, sebanyak 3 koleksi.
  44. Buku saku KBI, sebanyak 1 koleksi.

Ruang pengenalan
  1. Panitia Kongres Pemuda Kedua
  2. Patung dada Muhammad Yamin dan Sugondo Djojopuspito
  3. Organisasi peserta kongres pemuda
  4. Maket Gedung Sumpah Pemuda
  5. Peta Indonesia tempat kedudukan dari organisasi-organisasi-organisasi pemuda kedaerahan
  6. Peta Jakarta yang menunjukkan tempat-tempat dilaksanakannya kongres pemuda kedua dan kondisinya saat ini.

Back To Top