-->

Tradisi Berburu Paus Ala Suku Lamalera

Tradisi ini umumnya dilakukan selama periode Mei-Oktober sebab pada bulan tersebut gelombang air laut cukup tenang, sehingga memudahkan para pemburu untuk menaklukan ikan paus.
Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-16 dengan tantangan yang cukup berat, terutama hal regenerasi. Masalahnya, tidak semua masyarakat Lamalera, khususnya generasi muda tertarik menjadi nelayan, apalagi berpartisipasi dalam tradisi ini. Hal ini disebabkan kemajuan teknologi dan tuntutan hidup, sehingga mereka beralih dari nelayan menjadi profesi lain yang lebih menjanjikan. Di luar apapun kendalanya, perburuan paus ini cukup menarik karena tidak menggunakan alat-alat canggih seperti radar dan senapan, tetapi menggunakan alat-alat tradisional yang diturunkan nenek moyang mereka. Bermodalkan perahu kayu yang memuat tujuh orang awak disebut peledang dan bambu runcing berujung besi disebut tempuling, mereka siap memburu mamalia laut paling besar tersebut.  Sedangkan orang yang bertugas untuk menikam paus dengan tempuling disebut lamafa.
Ada tiga jabatan penting dalam satu peledang, yaitu lamuri (juru kemudi), matros (kru perahu) dan lamafa (penikam paus) sekaligus jabatan terpenting di dalam perburuan ini. Menariknya lamafa berdiri di ujung kapal dan menombak paus jenis sperm whales yang sudah dewasa tetapi tidak membunuh paus anakan atau yang sedang hamil. Jauh dari bayangan, para pemburu sungguh lihai mengidentifikasi jenis paus dalam sekejap serta kondisinya. Keahlian ini yang diturunkan oleh leluhur mereka untuk melestarikan tradisi perburuan paus di Lamalera. Lalu, daging hasil buruan akan dibagikan ke seluruh desa, diolah dengan dikeringkan atau diasap dan ada pula yang disimpan untuk persediaan selama setahun. Perburuan ini bukan sekedar menaklukkan makhluk yang lemah, tetapi menunjukkan peradaban leluhur yang sarat nilai. Oleh karena itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat menjadikan tradisi berburu paus sebagai salah satu objek wisata.
Cara Berburu Paus di Lamalera
Sebelum perburuan dimulai, biasanya masyarakat Lembata khususnya Suku Wujon yang tinggal di atas gunung akan turun ke pantai dan berdoa memanggil paus sekaligus meminta berkah dari arwah leluhur untuk para nelayan yang akan pergi berburu. Lalu, pada 1 Mei akan disediakan 20 kapal untuk berburu yang menandakan jumlah suku yang ada di Lamalera, tapi hanya satu yang diperbolehkan untuk berlayar pada hari pertama sebagai pembuka jalan, yaitu perahu Paraso Sapang sebagai suku tertua di Lamalera. Apabila perahu tersebut berhasil menemukan ikan paus, maka 19 perahu lainnya akan menyusul untuk membantu Paraso Sapang. Tetapi, jika perahu tersebut tidak berhasil, maka perburuan dilanjutkan hari selanjutnya secara bersama-sama.
Saat menemukan paus, lamafa dengan berani mendekati hewan tersebut dan perahunya berhadapan sangat dekat dengan kepala paus. Dalam posisi sangat berbahaya itu, ia langsung menikamkan tempulingnya, bambu panjang berujung besi panjang tajam berkait ke ketiak paus yang merupakan titik lemahnya. Untuk melumpuhkan paus sepanjang 10 meter dan tinggi satu meter tidaklah mudah, butuh sekitar 1,5 jam bertarung. Selanjutnya, hewan ini diikatkan pada salah satu sisi perahu dan ditarik ke darat. Kadang-kadang para pemburu tersebut menjadi korban akibat hempasan ekor ikan raksasa yang kaget saat ditombaki. Bahkan, perahu bisa langsung pecah dengan hanya satu kali tebasan ekor paus, sehingga tak jarang ada korban yang jatuh.

Tari Remo

Tari remo menurut sejarahnya adalah tari yang khusus dibawakan oleh penari laki-laki karena berkaitan dengan lakon yang dibawakan dalam tarian ini yaitu menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga.

Busana Penari Remo

Dalam pertunjukan tari remo putri, umumnya para penari akan memakai kostum tari yang berbeda dengan kostum tari remo asli yang dibawakan oleh penari pria. Para penari wanita akan memakai sanggul, mekak, rampak dilengkapi dengan satu selendang yang disampirkan di bahu penari.
Lain dengan kostum penari pria yang menggunakan gaya busana khas Surabaya, gaya ini terdiri dari ikat kepala merah, baju tanpa kancing berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18. Celananya sebatas pertengahan betis yang diikat dengan jarum emas, sarung batik pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen diikatkan ke pinggang serta kering yang berada di belakang.
Ada juga kostum Gaya Sawunggaling yang hampir sama dengan gaya Surabayan, dengan perbedaannya pada pemakaian kaus putih berlengan panjang. Selain itu ada juga gaya Malangan yang pada dasarnya juga sama dengan gaya Surabayan, yang membedakan adalah celananya yang panjang hingga menyentuk mata kaki. Gaya Jombangan hampir sama juga dengan gaya Sawunggaling perbedaanya pada penggunaan rompinya dan tidak memakai kaus.

Gerakan Kaki dan Musik Gamelan

Ciri-ciri yang paling khas dan paling utama dari Tari Remo ini adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan tersebut didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di perlangan kaki. Selain itu, ciri-ciri yang lain yaitu gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif.
Tari Remo diiringi oleh musik gamelan yang biasanya terdiri atas bonang barung atau babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli dan Tropongan, namun dapat pula berupa gending Walangkekek, Gedok Rancak, Krucilan atau gending-gending kreasi baru. Dalam pertunjukan ludruk, penari biasanya menyelakan sebuah lagu di tengah-tengah tariannya.

Cap Go Meh Di Pulau Kemaro Ritual Cari Jodoh

Pagoda di Pulau Kemaro. (ANTARA)
Pagoda di Pulau Kemaro. (ANTARA)
Untuk diketahui, Pulau Kemaro, merupakan sebuah Delta kecil di Sungai Musi. Jika dihitung keberangkatannya dari Palembang, jaraknya sekitar 40 kilometer. Sedangkan jarak tempuh dari Jembatan Ampera terhitung 6 kilometer.
Terletak di daerah industri, yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya, Pertamina Plaju dan Sungai Gerong, Pulau Kemaro menjadi tempat rekreasi yang terkenal. Butuh waktu lima menit untuk sampai ke Pulau tersebut dengan menggunakan sampan motor (sampan bermesin) dari dermaga PT Pusri Palembang. Biasanya pemerintah setempat menyediakan alat transportasi air itu bagi para pengunjung secara gratis setiap perayaan Cap Go Meh .
Di tempat ini terdapat sebuah vihara China (kelenteng Hok Tjing Rio) dan kuil Buddha. Terdapat pula makam putri Palembang.
Legenda
Menurut legenda setempat, pada zaman dahulu, seorang putri dari Kerajaan Sriwijaya, Siti Fatimah Putri dikirim untuk menikah dengan seorang pangeran dari China, Tan Bun An. Sang putri meminta 9 guci emas sebagai mas kawinnya.
Untuk menghindari bajak laut maka guci-guci emas tersebut ditutup sayuran. Sayangnya, sang pangeran buru-buru emosi ketika membukanya dan melihat bahwa di guci tersebut hanya berisi sayuran. Sang pangeran pun meluapkan amarahnya dengan membuang guci-guci tersebut ke sungai.
Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai hingga tenggelam. Dari tempat dua sejoli ini terjun, muncullah pulau kecil yang tak tenggelam saat Sungai Musi airnya pasang sekalipun, yang sekarang dikenal dengan nama Pulau Kemaro. Sang putri dikuburkan di Pulau Kemaro tersebut. Untuk mengenang kisah tragis sang puteri cantik ini, maka dibangunlah sebuah Kuil.
Daya tarik Kemaro adalah Pagoda berlantai 9 yang menjulang di tengah-tengah pulau. Pagoda setinggi 45 meter itu dibangun pada 2006. Selain pagoda ada kelenteng yang sudah dulu ada. Klenteng Soei Goeat Kiong atau lebih dikenal Kelenteng Kuan Im dibangun sejak 1962. Di depan kelenteng terdapat dua makam berdampingan, yakni makam Tan Bun An dan Siti Fatimah. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Selain itu ditempat ini juga terdapat sebuah Pohon yang disebut sebagai “Pohon Cinta” yang dilambangkan sebagai ritus “Cinta Sejati” antara dua bangsa dan dua budaya yang berbeda pada zaman dahulu Siti Fatimah dan Tan Bun An. Konon, jika ada pasangan yang mengukir nama mereka di pohon tersebut maka hubungan mereka akan berlanjut sampai jenjang Pernikahan. Untuk itulah pulau ini juga disebut sebagai Pulau Jodoh.
Karena legenda itu pula, tidak kurang dari 70.000 pengunjung yang sebagian besar warga keturunan Tionghoa merayakan Cap Go Meh di tempat tersebut. Khususnya, kaum muda-mudi yang berharap akan mendapat keberuntungan bertemu jodoh. Seperti salah satu pengunjung dari Jambi, Susanto yang mengatakan, kisah atau cerita untuk dipertemukan dengan jodohnya, membuat dia datang ke kelenteng itu.
Pantangan
Ketua Panitia Penyelenggara Cap Go Meh 2015, Candra Husin mengatakan, tradisi mencari jodoh di balik perayaan Cap Go Meh sudah berlangsung sejak 300 tahun silam. Zaman dulu, lanjut Candra, anak perempuan tidak boleh keluar rumah. Hanya saat perayaan Cap Go Meh mereka baru diizinkan bertemu dengan anak laki-laki untuk saling mengenal.
Wah, apakah Anda jomblo? Tempat ini cukup rekomended bagi Anda yang saat ini masih jomblo alias belum menemukan jodoh yang sepadan.

Kampung Tarung dan Waitabar Tradisi dan Agama Asli Sumba di Tengah Kota

Pucuk-pucuk jerami menyembul dari sebuah bukit dengan tatapan langsung dari tengah Kota Waikabubak. Anda tidak akan mengira di tengah kota yang sedang bertumbuh itu masih kokoh berdiri sebuah kampung adat yang teguh memegang agama, nilai adat dan tradisi dan telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Waikabubak adalah ibukota Kabupaten Sumba Barat yang terletak di sebuah lembah dengan populasi penduduk sekira 26.423 jiwa. Kota yang terus beranjak membangun diri tersebut nyatanya masih mempunyai banyak kampung adat yang telah begitu lama berdiam di atas puncak bukit di pinggir maupun di tengah kota.

Kampung Tarung dan Waitabar telah destinasi wajib yang harus masuk dalam daftar penjelajahan Anda selama mengarungi keindahan Waikabubak. Kedua kampung ini meski berbeda nama namun nyatanya menyatu dalam sebuah kawasan. Anda dapat menyambangi kampung luar biasa ini di tengah kota Waikabubak. Bayangkan cukup beberapa menit saja dari pusat kota maka sudah bisa melihat wajah asli budaya sumba yang begitu murni.

Kampung ini bukan sekadar kampung biasa melainkan juga berfungsi sebagai institusi sosial dan keagamaan (Marapu). Inilah salah satu potret terbaik menyentuh langsung agama Marapu di Sumba bersama tradisinya yang tidak banyak berubah sejak masa lampau.

Rumah adat Sumba atau uma merupakan bentuk bangunan adat dengan arsitektur vernakular pencakar langit. Strukturnya segi empat di atas panggung yang ditopang tonggak-tonggak kayu dengan kerangka utama tiang turus (kambaniru ludungu) sebanyak 4 batang, juga ada 36 batang tiang (kambaniru) berupa struktur portal dengan sambungan pen memakai kayu mosa, kayu delomera, atau kayu masela.

Ada tiga bagian utama rumah adat sumba, yaitu: pertama: bagian atap rumah (toko uma) berbentuk kerucut seperti menara biasa digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka. Terkadang pula di sana digunakan untuk menyimpan hasil panen. Kedua, ruang hunian (bei uma) yang tidak menyentuh tanah. Pada ruang dalam dibedakan atas ruang akses untuk pria dan wanita. Ada juga ruang hunian berlantai bambu untuk tempat bermusyawah berupa beranda luas (bangga). Ketiga, adalah bagian bawah rumah (kali kabunga) menjadi kandang ternak, seperti kambing, babi, atau bahkan kuda dan kerbau.

Selain bagian dari struktur bangunan rumah adat di atas, ada beberapa jenis bangunan adat dengan peruntukan khusus di Sumba, yaitu: rumah tinggi bertingkat tempat memelihara ternak kuda dan babinya dikolong rumah (uma jangga), rumah keramat pemujaan marapu atau roh leluhur yang tidak dipergunakan sebagai tempat tinggal (uma ndewa), serta rumah besar tempat bermusyawarah adat (uma bokulu).

Apabila Anda perhatikan sambungan atap bangunan ini memakai ikatan dengan usuk maupun penutup atap dari ilalang (Imperata cylindrica).  Sistem struktur yang sederhana ini berkaitan dengan tidak dikenalnya alat pertukangan selain parang dan kampak karena orang Sumba baru mengenal logam ketika Portugis mulai menguasai wilayah ini.

Pesona Sarung Tenun Tradisional Samarinda

Samarinda adalah Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki sejuta keindahan alam dan kebudayaan yang masih terjaga hingga sekarang. Hasil kebudayaan yang bertahan dan tetap dilestarikan hingga sekarang salah satunya adalah Sarung Samarinda.
Sarung khas Samarinda ini dihasilkan memalui proses yang panjang yaitu dimulai dari berbentuk kapas dan dijadikan benang kemudian ditenun hingga menjadi lembaran kain dan terakhir dibentuk menjadi sarung yang telah lama menjadi ciri khas dan kebanggaan masyarakat Samarinda karena memiliki banyak macam motif yang unik, indah dan dibuat dengan cara di tenun menjadikan sarung samarinda sangat istimewa dikalangan masyarakat Samarinda maupun diluar kota samarinda.

Tempat pembuatan Sarung Tradisional Samarinda ini terletak di Kampung Baqa' Samarinda Seberang, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mendatangi tempat ini yaitu cara yang pertama dengan jalur darat yang jarak tempuhnya sekitar 20 menit dari pusat kota Samarinda serta cara yang kedua melalui jalur air dengan naik kapal kecil atau besar untuk menyeberangi sungai Mahakam yang jarak tempuhnya selama 5 s/d 10 menit dari pelabuhan Pasar Pagi.

Setelah tiba di tempat tersebut Anda akan disambut dengan suara-suara khas alat tenun tradisional yang bersahut-sahutan karena mayoritas warga sekitar mengisi waktu luang dengan melakukan aktifitas menenun dan anda dapat melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan kain tenun dengan berbagai motif khas sebelum dijadikan sarung yang telah menjadi ciri khas kota Samarinda.

Tradisi Unik Sambut Bulan Ramadhan


Tradisi Unik Sambut Ramadhan di Indonesia, berbagai tradisi unik biasanya dilakukan oleh Masyarakat Indonesia pada saat bulan Ramdhan, apa saja hal unik tersebut ?

Berikut beberapa Tradisi Unik Sambut Ramadhan di Indonesia :

1. Meugang
Tradisi Meugang berasal dari Aceh. Dua hari jelang puasa, mereka patungan membeli kerbau, menyembelihnya, lalu memakannya bersama-sama.
Orang yang lebih mampu secara finansial biasanya juga memberikan sumbangan agar masyarakat yang kurang mampu dapat ikut serta menikmati tradisi ini.

2. Balimau
Balimau merupakan tradisi menyambut Ramadhan yang berasal dari Sumatera Barat. Dalam bahasa Minang, 'balimau' berarti mandi disertai keramas dengan menggunakan jeruk nipis (limau).
Hal itu merupakan lambang pembersihan diri sebelum puasa dimulai. Acara Balimau ini juga dilakukan secara beramai-ramai di sungai, danau, atau kolam.

3. Ngelop
Di Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, ada tradisi Ngelop. Ngelop yaitu kegiatan mandi di laut beramai-ramai dengan niat menyucikan diri sebelum melakukan puasa Ramadhan.
Ngelop biasanya dilakukan di Pantai Ketang Kalianda pada sore hari hingga maghrib, bertepatan dengan pergantian tanggal memasuki bulan Ramadhan

4. Dugderan
Di Semarang, ada tradisi Dugderan yang berbentuk festival dan pasar malam. Dugderan biasanya dilakukan satu minggu sebelum puasa. Banyak barang dijual para pedagang. Mulai dari mainan hingga pakaian. Ada pula hiburan seperti komidi putar.
Konon, dugderan berasal dari gabungan kata 'dug' dari suara bedug dan 'der' dari suara meriam. Kedua benda ini dahulu dipakai untuk menandakan datangnya bulan suci Ramadhan.

5. Makan Kue Apem
Masyarakat Surabaya lazim mengonsumsi kue apem saat bulan puasa datang. Nama apem berasal dari bahasa Arab 'Afwum' yang artinya maaf. Karena itu, secara simbolis apem diartikan meminta maaf kepada keluarga, teman, dan sanak saudara.
Acara memakan kue apem bersama-sama dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan tahlilan.

6. Perlon Unggahan
Di Banyumas, menjelang bulan Ramadhan mereka mengadakan Perlon Unggahan, yang merupakan acara makan besar. Banyak makanan yang disajikan, namun yang pasti ada adalah nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek.
Serundeng sapi dan sayur becek harus disiapkan oleh 12 laki-laki, karena banyaknya kambing dan sapi yang disembelih.

Berburu Oleh-Oleh Khas Makassar Dan Suvenir Unik Di Makassar

Menghabiskan liburan di kota Makassar dengan tidak membeli oleh-oleh khas Makassar akan terasa kurang puas. Maka anda harus mulai memilih oleh-oleh dari sana karena banyak buah tangan yang bisa Anda beli agar liburan di Makassar selalu terkenang.
Liburan di kota Makassar ada satu tempat yang menjadi tempat utama membeli oleh-oleh, yaitu di Jalan Somba Opu. Di sini, Anda dapat membeli banyak oleh-oleh khas Makassar karena banyak toko yang menjual aneka suvenir unik di Makassar.
1.    Kain tenun Bugis
Hampir semua daerah di Indonesia mempunyai kain khas. Jika Sumatera Barat punya songket khas Pandai Sikek, Makassar memiliki kain tenun Bugis. Dengan corak dan warna yang beragam merupakan salah satu suvenir unik di Makassar. Dalam jenis katun dan sutera dengan harga Rp 35-200 ribu/meter.
2.    Sarung tenun bugis
Kaum adam senang dengan sarung tenun khas Bugis. Ini adalah kain sarung yang merupakan dari kain tenun. Harganya mulai dari Rp 20 ribu sampai ratusan ribu per buah. Semua tergantung jenis bahan yang digunakan.
3.    Songkok
Setelah kain tenun Bugis, ad juga songkok yang merupakan kopiah Makassar cukup khas ketimbang songkok dari daerah lain. Dibuat dari anyaman rotan dengan warna kuning. Namun harga satu songkok adalah Rp 200.000.
4.    Minyak Gosok Cap Tawon
Nama Minyak Gosok Cap Tawon pasti pernah kita dengar. Banyak para wisatawan yang liburan di kota Makassar yang senang membeli minyak gosong karena bermanfaat dalam menyembuhkan banyak penyakit. Hadir dalam dua macam yaitu tutup botol merah dan putih dengan harga Rp 90.000 dan Rp 230.000.
5.    Balsem Cap Tawon
Balsem Cap Tawon juga merupakan salah satu oleh-oleh khas Makassar yang tak boleh ketinggalan dibeli. Memiliki nama yang sama, balsem ini hadir dengan aroma dan kehangatan yang sama dengan Minyak Gosok Cap Tawon. Anda bisa mendapatkan balsem ini dengan harga Rp 8.500/buah.

Kitab-Kitab Peninggalan Sejarah dan Pengarangnya

Berikut ini ada 7 buah kitab-kitab peninggalan zaman kerajaan di Indonesia.

Dua diantaranya adalah kitab yang dihasilkan dari zaman Kerajaan Kediri, sedangkan dua lagi adalah kitab-kitab yang dihasilkan oleh empu pada zaman Kerajaan Majapahit.

7 Kitab Peninggalan Sejarah dan Pengarangnya

1. Kitab Sutasoma, dikarang oleh Empu Tantular.



Empu Tantular hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.

2. Kitab Mahabharata, dikarang oleh Resi Wiyasa.


3. Kitab Ramayana, dikarang oleh Empu Walmiki.


4. Kitab Arjuna Wiwaha, dikarang oleh Empu Kanwa.


Empu Kanwa ini hidup pada zaman pemerintahan Raja Airlangga, Kahuripan.

5. Kitab Smaradahana, dikarang oleh Empu Darmaja.


Empu Darmaja hidup pada zaman Raja Kameswara I Kediri.

6. Kitab Bharatayuda, dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.


Kedua Empu hidup pada zaman kerajaan Kediri, dengan Raja Jayabaya.

7. Kitab Negarakertagama, dikarang oleh Empu Prapanca.


Empu Prapanca hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.

Tujuh kitab tersebut adalah kitab-kitab kuno yang sangat terkenal di Indonesia, hasil karya Pujangga-Pujangga asli tanah air pada zamannya.

Sebut saja Kitab Sutasoma buah karya Empu Tantular, siapa yang tidak pernah mendengar kitab ini terutama anak-anak sekolah pastilagh pernah mendengarnya dan bahkan hafal sampai siapa pengarangnya.

Kesenian Wayang Golek Jawa Barat

Wayang golek jawa barat.
ASAL MULA

Asal mula wayang golek tidak diketahui secara lengkap, dan jelas. Tapi sebenarnya wayang golek merupakan pengembangan dari wayang kulit. Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1853 M sunan kudus membuat wayang yang berbahan dari kayu, dan diberi nama wayang golek, dan dapat dimainkan atau dipentaskan pada waktu siang hari. Selain itu Ismunandar (1988) mengatakan pada awal abad ke-16, sunan kudus membuat bangun wayang purwo sebanyak 70 buah dengan cerita menak yang diiringi oleh gamelan salendro, bentuknya menyerupai boneka, tidak memerlukan klir, berbahan kayu oleh karna itu dinamakan wayang golek. 
Awalnya yang diceritakan dalam cerita wayang golek adalah cerita panji, dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon wayang golek ini ada sejak masa panembahan ratu (cicit sunan gunung jati (1540-1650)) didaerah cirebon. Pada masa itu disebut wayang papak atau cepak, karena bentuknya datar. Pada masa pangeran grilaya (1650-1662) wayang papak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad, dan sejarah tanah jawa. Lakon pada waktu itu bernuansa atau berkisar pada penyebaran agama islam, dengan lakon cerita ramayana, dan mahabrata (wayang golek purwa) yang lahir pada tahun 1840 (Somantri 1988).
Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh dalem karang anyar (Wiranata kusumah III) pada masa akhir jabatanya. Pada masa itu beliaw memerintah kiDarman (penyungging wayang kulit, dari tegal) yang tinggal dicibiru, ujung berung, untuk membuat wayang dari kayu, tetapi berbentuk gepeng menyerupai wayang kulit. Tetapi atas anjuran dalem itu sendiri wayang yang berbentuk gepeng itu dbuat berbentuk bulat, seperti wayang-wayang sekarang kebanyakan. Perkenalan wayang golek dipriangan, dikenal pada abad -19 sejak dibukanya jalan raya Daendels. Mulanya pementasan wayang golek dibawakan dengan bahasa jawa, namun setelah orang sunda pandai mendalang, dirubah menjadi ke bahasa sunda.
wayang golek purwa.
wayang golek modern

Wayang golek merupakan salah satu kebudayaan asli indonesia, yang berasal dari jawa barat, dan sampai saat ini masih bertahan dikalangan masyarakat. Namun walaupun wayang golek ini merupakan ciri khas suku sunda, tetapi tidak banyak orang yang tau asal usul wayang golek itu sendiri. sebab sudah terkonstaminasi oleh kebudayaan-kebudayaan asing, yang mungkin lebih dminati oleh masyarakat indonesia pada umumnya. 
Kendati demikian, dalam beberapa tahun terakhir ini, kesenian wayang golek ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Karena kesenian wayang golek ini oleh sebagian orang yang masih peduli akan kebudayaan asli, yang diwariskan oleh nenek moyang, dimodernisasikan, serta diberi sentuhan-sentuhan yang tidak membuat masyarakat bosan. Contohny sebuah paguyuban wayang golek yang berasal dari Bandung yaitu paguyuban wayang golek GIRIHARJA dengan dalangnya yang sudah dikenal, yaitu Kidalang Asep Sunandar Sunarya putra dari dalang senior Kidalang abah Sunarya. Ki dalang Asep Sunandar S mampu membuat masyarakat kembali mencintai kesenian wayang golek, dengan permainan yang sudah dimodernisasikan, seperti muntah, dan makan mie, serta teknik-teknik lainya, dan dikalaborasikan dengan bodoran-bodoran yang membuat yang menontonya tidak merasa bosan.
Sebelum ki dalang Aep Sunandar Sunarya, masih banyak lagi dalang-dalang kondang yang sudah memodernisasikan, seperti kaka dari kidalang Asep Sunandar S yaitu Kidalang Ade kosasih sunarya, terdahulu dan  masih banyak dalang lainya.
Dari inspirasi, dan inovasi serta kerja keras dalang-dalang itu, akhirnya seni wayang golek banyak diminati bukan hanya di kalangan masyarakat indonesia saja, namun sudah memancanegara seperti amerika, inggris, prancis dan banyak negara-negara lainya. tidak sedikit juga peminat-peminat dari kalangan muda yang muncul ikut melestarikan kebudayaan wayang golek, contohnya putu girharja yaitu Kidalang Dadan sunandar Sunarya, Kidalang adhi kontea kosasih sunarya, dan masih banyak lainya, mereka ikut melestarikan budaya seni wayang golek, dengan inovasi-inovasi mereka yang lebih modern. Sampai ada yang dikalaborasikan dengan sentuhan-sentuhan luar, contohnya sudah kita ketahui alat-alat yang digunakan untuk mengiringi wayang golek adalah alat musik tradisional, seperti kendang, goong, bonang dll. namu oleh sebagian dalang-dalang masa kini ditambah alat-alat musik modrn seperti gitar, drum dll, untuk mengiringi dalam pementasan wayang golek.
PEMBUATAN WAYANG GOLEK
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. cara pembuatanya dengan cara meraut dan mengukirnya, sehingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir, dan motif dikepala wayang, digunakan cat duko, dengan cat ini wayang menjadi lebih cerah. Pewarnaan wayang sangat penting, karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang digunakan dalam wayang ada 4: Merah, Putih, Prada, dan Hitam.

Adapun sebuah industri yang membuat wayang golek, yang beralamat di ds. jelekong, kec. ciparai, kab. bandung, dan diberi nama "Graha Wayang Golek Big Giriharaja" pengelola industeri ini bernama Suherman Sunanndar, Beliaw sebenarnya adalah salah satu putra dari dalang senior yaitu Kidalang Abah Sunarya, ia tidak seperti sodara-sodaranya yang justru lebih menggeluti propesi ayahny yaitu menjadi seorang dalang, namun suherman sunandar lebih menggeluti dalam pembuatan wayang golek. Namun seiring perkembangan usia yang semakin lanjut, beliaw tidak lagi berkecimbung lagi dalam industri pembuatan wayang golek, dan pada tahun 1997 beliaw telah mewariskan kepada anak mantunya yang bernama Barnas Sabunga.

Dibawah pimpinan Barnas yang semula murni untuk melestarikan kesenian wayang golek, kini dikelola secara profesional, sehingga setahap demi setahap industeri kerajinan itu dapat menghasilkan uang. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari industeri itu, disisihkan barnas untuk membangun perpustakaan, dam musiem wayang golek. Selain membuat kesenian wayang golek, graha wayang golek big giriharja juga memproduksi lukisan-lukisan karya istrinya, yang juga dipajang di graha wayang golek big giriharja.

Simbol Kecantikan Para Bangsawan Suku Dayak Diukur Panjang Telinga

Tak cuma suku pedalaman luar negeri yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyimbolkan kecantikan seorang wanita Di Indonesia, Anda juga bisa menmperolehnya pada Suku Dayak, Kalimantan.
Di suku ini, symbol wanita yang dipandang cantik adalah mereka yang mempunyai telinga panjang.
Hampir serupa dengan yang dilaksanakan oleh para leluhur Suku Kayan di Thailand terhadap keturunan penerus mereka. Adat istiadat yang dijaga secara turun temurun ini sudah dimulai sejak wanita Suku Dayak masih bayi dan cuma dilakukan oleh mereka yang berasal dari keluarga para bangsawan.
Layaknya menggunakan anting-anting di telinga, wanita Suku Dayak juga melaksanakan hal serupa. Bedanya, anting yang mereka pakai terbuat dari kuningan yang selalu ditambah jumlahnya, semakin berat antingnya, maka telinga akan semakin panjang.

Sayangnya, sekarang ini sudah sangat jarang keturunan penerus yang mengabadikan telinga panjang ini. Argumentasinya pun beragam, tetapi kebanyakan mengaku mereka sering diejek ketika berada di sekolah. Suku Dayak yang mempunyai adat istiadat di antaranya ialah Dayak Iban, Dayak Punan Dayak Kayaan, Dayak Taman.

Tari Kecak Bali

Tari Kecak disebut juga sebagai tari "Cak" atau tari api (Fire Dance) merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan dan cendrung sebagai sendratari yaitu seni drama dan tari karena seluruhnya menggambarkan seni peran dari "Lakon Pewayangan" seperti Rama Sinta dan tidak secara khusus digunakan dalam ritual agama hindu seperti pemujaan, odalan dan upacara lainnya.
Sejarah Tari Kecak (Bali)
Sejarah Tari Kecak (Bali)
Bentuk - bentuk "Sakral" dalam tari kecak ini biasanya ditunjukan dalam hal kerauhan atau masolah yaitu kekebalan secara gaib sehingga tidak terbakar oleh api.

Tidak diketahui secara pasti darimana tari kecak ini berasal, dan dimana pertama kali berkembang. Namun ada suatu macam kesepakatan pada masyarakat Bali kecak pertama kali berkembang menjadi seni pertujukan di Bona, Gianyar, sebagai pengetahuan tambahan kecak pada awalnya merupakan suatu tembang atau musik yang dihasil dari perpaduan suara yang membentuk melodi yang biasanya dipakai untuk mengiringi tari Sanghyang yang disakralkan. Dan hanya dapat dipentaskan di dalam pura. Kemudian pada awal tahun 1930an seniman dari desa Bona, Gianyar mencoba untuk mengembangkan tarian kecak dengan mengambil bagian cerita Ramayana yang didramatarikan sebagai pengganti Tari Sanghyang sehingga tari ini akhirnya bisa dipertontontan di depan umum sebagai seni pertunjukan. Bagian cerita Ramayana yang diambil pertama adalah dimana saat Dewi Sita diculik oleh Raja Rahwana.

Perkembangan Tari Kecak Di Bali

Tari kecak di Bali mengalami terus mengalami perubahan dan perkembangan sejak tahun 1970-an. Perkembangan yang bisa dilihat adalah dari segi cerita dan pementasan. Dari segi cerita untuk pementasan tidak hanya berpatokan pada satu bagian dari Ramayana tapi juga bagian bagian cerita yang lain dari Ramayana.

Kemudian dari segi pementasan juga mulai mengalami perkembangan tidak hanya ditemui di satu tempat seperti Desa Bona, Gianyar namun juga desa desa yang lain di Bali mulai mengembangkan tari kecak sehingga di seluruh Bali terdapat puluhan group kecak dimana anggotanya biasanya para anggota banjar. Kegiatan kegiatan seperti festival tari Kecak juga sering dilaksanakan di Bali baik oleh pemerintah atau pun oleh sekolah seni yang ada di Bali. Serta dari jumlah penari terbanyak yang pernah dipentaskan dalam tari kecak tercatat pada tahun 1979 dimana melibatkan 500 orang penari. Pada saat itu dipentaskan kecak dengan mengambil cerita dari Mahabarata.

Namun rekor ini dipecahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan yang menyelenggarakan kecak kolosal dengan 5000 penari pada tanggal 29 September 2006, di Tanah Lot, Tabanan, Bali.

Pola Tari Kecak


Sebagai suatu pertunjukan tari kecak didukung oleh beberapa factor yang sangat penting, Lebih lebih dalam pertunjukan kecak ini menyajikan tarian sebagai pengantar cerita, tentu musik sangat vital untuk mengiringi lenggak lenggok penari. Namun dalam dalam Tari Kecak musik dihasilkan dari perpaduan suara angota cak yang berjumlah sekitar 50 – 70 orang semuanya akan membuat musik secara akapela, seorang akan bertindak sebagai pemimpin yang memberika nada awal seorang lagi bertindak sebagai penekan yang bertugas memberikan tekanan nada tinggi atau rendah seorang bertindak sebagai penembang solo, dan sorang lagi akan bertindak sebagai ki dalang yang mengantarkan alur cerita. Penari dalam tari kecak dalam gerakannya tidak mestinya mengikuti pakem-pakem tari yang diiringi oleh gamelan. Jadi dalam tari kecak ini gerak tubuh penari lebih santai karena yang diutamakan adalah jalan cerita dan perpaduan suara.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Kesenian Tari Reog Ponorogo

Reog merupakan kesenian terkenal asli warisan leluhur Indonesia yang berasal dari Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Kesenian Reog Ponorogo sampai sekarang masih aktif dan di kenal dari seluruh masyarakat Indonesia bahkan wisatawan mancanegara.

Reog Ponorogo yang kita kenal identik dengan kekuatan dunia hitam, preman ataupun kekerasan lainnya serta lepas pula dari dunia mistis ketimuran dan kekuatan supranatural. Salah satu pertunjukkan yang ada pada reog yakni mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat 50kg yang digigit sepanjang pertunjukan berlangsung.
Sejarah Kesenian Tari Reog Ponorogo
Tak hanya itu seni reog ponorogo diiringi oleh beberapa gamelan seperti kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan lain sebagainya. Didalam reog ponorogo juga ada warok tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlah anggota grup reog ponorogo sekitar 20-30an, sedangkan peran utama ada di warok dan pembarongnya.

Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah.

Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya.

Selanjutnya kesenian reog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri.

Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.

SEJARAH REOG PONOROGO


Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak.

Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.

Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya. Selanjutnya kesenian reog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Reog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kimpoi. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak).

Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta.

Versi lain dalam Reog Ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Pujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Dari situ terciptalah Reog Ponorogo. Huruf-huruf reog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: Rasa kidung/ Ingwang sukma adiluhung/ Yang Widhi/ Olah kridaning Gusti/ Gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Unsur mistis merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.

PEMENTASAN SENI REOG


Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Masjid Peninggalan Kerajaan Islam Indonesia

Kali ini saya akan membeberkan peninggalan sejarah islam di Indonesia yaitu masjid-nya yang bisa jadi referensi wisata untuk kalian semua. mungkin sudah banyak yang tau atau sudah pernah mengunjunginya, silahkan simak artikel ini untuk mengingatkan wawasan anda.

1.Masjid Raya Baiturrahman - Banda Aceh



Sebelum dibangun kembali masjid raya Baiturrahman merupakan peninggalan kerajaan aceh pada abad 15 M, terletak dijatung kota ibukota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tepatnya dikota Banda Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya. Menurut referensi yang saya baca kubah masjid raya ini berjumlah 7 Buah. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut. Dan tahukah kamu ? waktu gempa dan tsunami (26 Desember 2004) yang menghancurkan sebagian Aceh, mesjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini, subhanallah.
















2. Masjid Agung Banten - Banten


Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Banyak loh para peziarah yang datang, bukan hanya dari banten dan jawa barat, tapi banyak juga dari daerah di pulau jawa. Yang menjadi ciri khas Masjid Agung Banten ini adalah atap bangunan yang bertumpuk lima mirip dengan pagoda china yang didesain oleh Tjek Ban Tjut. disamping itu ada juga menarah setinggi 24 meter yang terbuat dari batu bata dengan anak buah tangga berjumlah 83. Dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara ini juga digunakan sebagai tempat menyimpan senjata. Dan satu info lagi, di masjid ini terdapat kompleks pemakaman para sultan-sultan.




3.  Masjid Cirebon - Jawa Barat
Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Masjid dengan ciri khas yang terletak pada atapnya yang tidak memiliki kemuncakk atap sebagaimana yang lazim ditemui pada atap masjid-masjid di Pulau Jawa. Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon.

4. Masjid Kudus - Jawa Tengah
Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Aqsa dan Masjid Al Manar) adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tentunya masjid ini mempunya ciri khas yaitu menara yang serupa atau mirip bangunan candi, dan tahukah anda bahwa mesjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya hindu. Dan untuk menyambut bulan ramadan biasanya masjid ini menjadi pusat keramaian pada festival dhandhangan. bagi yang belum tau festival ini ini saya kasih linknya. klik

5. Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak adalah salah satu mesjid tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Konon katanya masjid ini dijadikan tempat berkumpul para wali yang menyebarkan agama islam dipulau jawa. Masjid ini didirikan oleh Raden Patah yaitu raja pertama kesultana Demak bersama para wali. Apasih yang menjadi daya tarik dari masjid ini, sampai-sampai masjid Agung Demak dicalonkan untuk menjadi Situs warisan Dunia UNESCO tahun 1995? Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.



6. Masjid Sunan Ampel
Tak Banyak yang saya tau tentang masjid ini, hanya bebarapa artikel dari tetangga. Masjid Ampel adalah sebuah masjid kuno yang terletak di kelurahan Ampel, kecamatan Semampir, kota Surabaya, Jawa Timur. Masjid seluas 120 x 180 meter persegi ini didirikan pada tahun 1421 oleh Sunan Ampel, yang didekatnya terdapat kompleks pemakakaman Sunan Ampel. Masjid yang saat ini menjadi salah satu objek wisata religi di kota Surabaya ini, dikelilingi oleh bangunan berarsitektur Tiongkok dan Arab disekitranya. Disamping kiri halaman masjid, terdapat sebuah sumur yang diyakini merupakan sumur yang bertuah, biasanya digunakan oleh mereka yang meyakininnya untuk penguat janji atau sumpah.

7. Masjid Katangka
Masjid Al-Hilal atau lebih dikenal dengan nama Masjid Katangka adalah salah satu masjid tertua di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kenapa Dinamakan Masjid Katangka? karena berlokasi di kelurahan Katangka, kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Selain itu, masjid ini disebut Katangka, karena bahan baku dasar dari masjid tersebut diyakini diambil dari pohon Katangka. Dan ciri khas Masjid ini seperti memiliki satu kubah, atap dua lapis menyerupai bangunan joglo. Bangunan ini juga memiliki empat tiang penyangga, yang berbentuk bulat dan memiliki ukuran yang besar dibagian tengah. Jendela masjid ini berjumlah enam serta memiliki lima pintu. Atap dua lapis berarti dua kalimat syahadat, empat tiang berarti empat sahabat nabi, jendela bermakna rukun iman ada enam dan lima pintu bermakna rukun Islam. Bagian kubah dipengaruhi oleh arsitektur Jawa dan lokal, tiang dipengaruhi oleh budaya Eropa, sedangkan bagian mimbar sangat kental dengan pengaruh kebudayaan China, ini terlihat pada atap mimbar yang mirip bentuk atap klenteng. Di sekitar mimbar juga masih terpasang keramik dari Cina yang konon dibawa oleh salah satu arsiteknya yang berasal dari sana.Ciri khas lainnya, dan ini terjadi di hampir seluruh bangunan kuno adalah pada bagian dinding yang terbuat dari batu bata itu cukup tebal, yakni mencapai 120 sentimeter (cm). Penyebab utamanya karena masjid ini juga pernah dijadikan sebagai benteng pertahanan saat Raja Gowa melawan penjajah. Masjid Katangka ini sudah mengalami renovasi sebanyak 6 kali.



8. Masjid Sultan Ternate
Masjid Sultan Ternate adalah sebuah masjid yang terletak di kawasan Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Masjid ini menjadi bukti keberadaan Kesultanan Islam pertama di kawasan timur Nusantara ini. Kesultanan Ternate mulai menganut Islam sejak raja ke-18, yaitu Kolano Marhum yang bertahta sekitar 1465-1486 M. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500), yang makin memantapkan Ternate sebagai Kesultanan Islam dengan mengganti gelar Kolano menjadi Sultan, menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, memberlakukan syariat Islam, serta membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Sementara arsitekturnya mengambil bentuk segi empat dengan atap berbentuk tumpang limas, di mana tiap tumpang dipenuhi dengan terali-terali berukir. Arsitektur ini nampaknya merupakan gaya arsitektur khas masjid-masjid awal di Nusantara, seperti halnya masjid-masjid pertama di tanah Jawa di mana atapnya tidak berbentuk kubah, melainkan limasan.


mohon koreksi jika ada salah penulisan kata.

Tradisi Unik Pacu Itiak di Sumatera Barat


Jika di Probolinggo marmut menjadi bintang utamanya dalam Karapan Marmut, nah lain halnya di Sumatera Barat tepatnya di daerah Nagari Tanjung, Kecamata Luak, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat. Pasalnya, disana ada tradisi masyarakat dimana seekor itik digunakan dalam sebuah lomba adu cepat yang namanya Pacu Itiak atau balapan itik. Di tradisi inilah itik menjadi bintang yang dielu-elukan untuk menjadi juara terdepan.
Anda pasti tahu dengan itik bukan? namun apakah semua itik bisa dilombakan dalam Pacu Itiak ini? dan ternyata jawabannya adalah tidak karena Itik yang digunakan dalam balapan ini bukanlah sembarang itik melainkan itik dengan kriteria khusus. Kriterianya pun macam-macam, mulai dari warna paruh dan kaki harus sama, mata dengan alis memiliki jarak yang tipis, leher pendek, sayapnya tidak boleh berpilin tetapi harus lurus dan mengarah ke atas, jumlah giginya ganjil, ujung jarinya ada sisik kecil, sampai dengan badan yang pajang (seperti jantung). Umur itik pun tak boleh tua yaitu harus berusia 4 sampai 6 bulan.
Jika Karapan Marmut, marmut dipaksa untuk berlari di tanah balap yan telah disediakan, di pacu itik, itik dipaksa terbang setelah dilepaskan untuk menuju garis finish. Itik memang dikenal sebagai hewan yang jarang terbang namun dalam perlombaan ini seperti membuktikan bahwa itik ternyata dapat terbang jauh. Jadi siapa yang mencapai garis finish duluan maka dialah yang menjadi juara. Itiak itu dipegang sedemikian rupa oleh para pemilik itiak untuk kemudian dilemparkan tinggi melambung ke udara. Setelah itiak dilepaskan, maka itiak-itiak tersebut akan terbang  menuju garis finish. 
Seperti halnya orang pacu lari, pacu itiak pun memiliki jarak terbang yang sudah dibuat dalam beberapa pilihan, yakni mulai dari 800 m hingga 2000 m. Penilaian dilakukan yakni dengan melihat itiak yang mampu terbang di atas jalur yang telah ditentukan dan mampu mencapai garis finish paling cepat. 
Sebagai catatan, Pacu itiak adalah olahraga tradisional asli Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat yang sudah dijadikan tradisi sejak tahun 1028. Pacu Itiak diklaim sebagai satu - satunya di dunia. Olahraga ini bermula dari masyarakat di kanagarian Aur Kuning, Sicincin, dan Padang Panjang yang memelihara itiak sambil bertani. Itiak tidak hidup di kandang saja melainkan di gembala di sawah-sawah mereka. (berbagai sumber)

Ski Lot, Tradisi Main Ski Lumpur di Pasuruan


Satu lagi tradisi unik, kali ini yang berhubungan dengan ski, kalau biasanya ski itu identik dengan es, tapi tidak bagi penduduk desa Pantai Lekok, Pasuruan. Lho, kenapa? karena di sana ski malah identik dengan lumpur. Main ski di atas lumpur sudah merupakan atraksi tahunan yang biasa digelar setiap tahunnya bertepatan dengan hari raya Ketupat atau beberapa  hari setelah Idul Fitri.

Tradisi Ski Lot ini sudah turun temurun dilakukan oleh para nelayan di sana. Awalnya dari rutinitas para nelayan mencari kerang dan rajungan di laut dengan menggunakan papan. Nah, dalam perkembangannya apa yang dilakukan oleh para nelayan ini akhirnya menjadi semacam tradisi setiap tahunnya dan dapat disaksikan oleh para pengujung yang duduk di pinggiran arena ski.
Nama ski sendiri seperti yang kita ketahui artinya adalah berselancar, sedangkan lot merupakan kata dari bahasa Madura “Celot” atau lumpur maka jadilah perpaduan keduanya menjadi Ski Lot. Ski lot dilakukan di atas lumpur tambak yang dikosongkan, para pesertanya biasanya adalah pria dewasa namaun tak jarang pula wanita dan anak-anak  juga turut serta.
sumber foto:www.lk.umm.ac.id
Peralatan ski lot ini terdiri atas papan luncur yang panjnagnya 1.5 meter dan lebarnya 0,5 meter. Papan luncur ini sedianya merupakan alat untuk mencari kerang bagi warga pesisir pantai namaun telah modifikasi sedemkian rupa oleh para peserta. 
Dalam ski lot mereka harus menangkap kepiting, ikan lele dan belut dengan berselancar di atas lumpur. Peserta harus menaiki papan luncur dengan posisi jongkok dan sebelah kaki harus tetap berada di lumpur sebagai penggerak saat akan melaju. Siapa yang tercepat akan  keluar menjadi juara dan diberikan hadiahnya yang cukup menarik biasanya, yaitu peralatan elektronik dan julukan nelayan cekatan dan cakap saat bekerja.
Selain lomba luncur, kegiatan ski lot juga dimeriahkan dengan adanya pasar murah, attraksi organ tunggal dan pesta rakyat. Ski lot menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu bagi masyarakat sekitar karena menjadi ajang silaturahmi antar warganya. (berbagai sumber)

3 Tradisi Unik di Indonesia



Harus diakui memang Indonesia negeri yang kaya akan adat istiadat pun tradisi masyarakatnya yang beraneka ragam. Hampir sebagian besar daerah-daerah di Indonesia mempunyai tradisi masyarakat dan kesemuanya mempunyai keunikannya masing-masing. Seperti tiga tradisi unik dibawah ini:
1. Tradisi Adu Betis 
Anda yang merasa betisnya kuat, sepertinya harus mengikuti tradisi unik yang satu ini. Ya tradisi adu betis yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Paroto, Desa Samaelo, Bone. Kesannya memang tradisi yang sedikit “aneh”, kok betis diadu?. Namun bagi masyrakat dusun itu, tradisi ini yang dinamakan Mallanca ini sudah dilakukan sejak beratus-ratus tahun lalu, jadi bukanlah hal yang baru dan mereka masih tetap melakukannya sampai sekarang ini.
sumber foto: www.yiela.com
Tradisi ini biasa dilakukan setiap mereka selesai memanen padi. Sebelum permainan ini dimulai, kaum ibu terlebih dahulu menyajikan makaan yang dibawa dari tumah untuk disantap bersama-sama oleh para peserta Mallanca dan penonton.
Setelah menyantap bersama barulah tradisi  ini digelar. Para peserta maju untuk menunjukkan kekuatan betisnya. Aturan permainan adalah sekali putaran diikuti empat orang dengan dua orang lawan dua. Dua orang yang memasang kaki dan dua orang lainnya yang melakukan sepakan. Sepakan pada betis ini dilakukan hingga tiga kali secara bergantian.
Aturan permainan tersebut adalah dalam sekali putaran diikuti empat orang yang masing-masing dua lawan dua. Dua orang yang memasang kaki dan dua orang lainnya yang melakukan sepakan. Sepakan pada betis ini dilakukan hingga tiga kali secara bergantian. Tak pelak, banyak dari peserta pun harus meringis kesakitan betisnya merah-merah.
Namun namanya tradisi turun temurun, ajang ini dilakukan untuk mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi warga kampung sekalian mengindari ras permusuhan. Maka tak jarang walau para peserta betisnya merah-merah lantaran disepak, tak ada rasa dendam di antara mereka. Permainan ini menjadi pertunjukan tersendiri yang cukup disenangi bukan hanya kaum tua, tetapi juga menarik perhatian anak-anak dan kaum hawa.
2.Karapan Marmut
Karapan yang satu ini jelas lain dari yang biasanya, jika kita mengenal karapan itu identik dengan karapan sapi atau kerbau di Madura. Nah, di daerah Probolinggo ada karapan yang namanya Karapan Marmut. Yup, marmut yang di “karapankan” bukan lah sapi atau pun kerbau.
Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat sana dalam menyambut datangnya musim kemarau. Tak ubahnya dengan karapn pada umumnya, karapan marmut ini pun lengkap dengan sirkuit, joki dan pengibar bendera untuk memulai balapan. Aturannya pun sama, yaitu siapa yang paling cepat masuk garis finish, dialah yang menang.
Nah, bedanya jika arena balap karapan sapi atau kerbau itu ukurannya besar dan joki menaiki sapi atau kerbaunya. Lain halnya dengan karapan marmut ini, karena sirkuitnya hanya berukuran 2 meter dan kecil ukurannya dan bisanya dilakukan di lakukan di halaman rumah warga setempat. Para jokinya pun berlari di belakang sambil memacu marmut itu  untuk berlari menuju garis finish. Tak jarang marmut yang dipacu dama karapan itu telah diberikan semacam ramuan khusus, bahkan tenaga dalam oleh sang punya. 
3. Ritual Tawur Nasi
Tawuran yang satu ini mungkin patut dicoba oleh para pelajar yang suka tawuran. Pasalnya, jenis tawuran ini sudah pasti tidak akan menghilangkan nyawa orang lain seperti yang baru-baru ini terjadi karena tawuran ini tidak menggunakan senjata macam melainkan nasi. 
sumber foto:kimchiconqueso.com
Ya, nasi, seperti yang diketahui nasi ini adalah makanan pokok yang banyak dikonsumsi oleh kita, namun ada kalanya bagi masyarakat desa Pelemsari, Rembang, Jateng, nasi ini justru digunakan untuk tawuran dalam ritual setiap tahun masyarakat desa pada setiap jumat legi seusai Lebaran.
Jadi, nasi bungkus yang digunakan dibungkus terlebih dahulu oleh daun pisang dan jati oleh para peserta tawuran. Lalu ditumpuk di tengah lapangan tempat ritual dilangsungkan. Lantas warga mengitari nasi-nasi itu dan kemudian diberikan doa-doa oleh para sesepuh desa setempat. Nah, setelah ritual doa  itu selesai mulailah perang nasi dilakukan, masyarakat dari kalangan anak-anak, remaja, orang dewasa, pun campur aduk saling melemparkan nasi.
Tradisi tawur pakai nasi ini sudah dilakukan selama belasan tahun untuk menjalin keakraban dan persaudaraan antar warga kampung, sekaligus mengurangi kenakalan remaja. Selain itu ritual dilaksanakan  sebagai bentuk rasa bersyukur atas panen yang melimpah di acara ini. Di ritual ini semua unek-unek peserta dapat terlampiaskan secara positif.
Usai tawur nasi, bukan berarti nasi bekas tawur itu dibiarkan begitu saja oleh warga desa. Tumpukan nasi yang berserakan itu lantas dipunguti oleh warga dan digunakan untuk pakan ternak dan unggas yang dipelihara oleh warga. (berbagai sumber)

Festival Menangkap “Nyale” di Lombok

Lombok memang kaya akan kekayaan alamnya yang esksotis. Anda pastilah tahu Gili Trawangan bukan? ya sebuah destinasi wisata utama yang menawarkan sejuta sensasi di Lombok, mulai dari pesona keindahan alam bawah laut sampai dengan ombaknya yang  menggoda hati untuk segera berselancar ketika di sana.

Akan tetapi Lombok tak hanya dikenal dengan eksotisme keindahan alamnya saja, lantaran Lombok juga dikenal dengan pulau yang banyak menyelenggarakan berbagai macam festival yang didasarkan pada tradisi masyarakatnya. Sebut saja Festival Bau Nyale yang diselenggarakan setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama yang biasanya jatuh pada sekitar bulan Februari atau Maret.
sumber foto: www.lomboklovers.aforumfree.com
Festival ini diadakan tepat di 16 titik Pantai Selatan Lombok Tengah yang memanjang sejauh puluhan kilometer dari arah Timur hingga barat seperti di Pantai Kaliantan, Pantai Kuta atau Pantai Selong Belanak.

Festival Bau Nyale pada dasarnya adalah ritual menangkap cacing laut yang biasanya keluar di daerah pantai Kuta. Cacing-cacing yang berwarna hijau, coklat, oranye hingga merah itu akan keluar pada tengah malam hingga pagi hari ketika pesisir laut mulai surut. Nyale sendiri berasal dari nama sejenis cacing laut yang biasa hidup di dasar laut atau lubang-lubang batu karang. 
www.lomboklovers.aforumfree.com
Nah, biasanya sebelum perayaan inti dari festival biasanya digelar beberapa kesenian dan acara tradisional seperti  Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih) serta Belancara (pesiar dengan perahu. Tak ketinggalan digelar pula pementasan drama yang diangkat dari kisah Putri Mandalika.
Kisah Putri Mandalika
Tradisi Nyale erat kaitannya dengan Putri Mandalika, tetapi siapakah Putri Mandalika itu sebenarnya? Putri ini menurut cerita masyarakat setempat Nyale adalah jelmaan dari rambut Putri Mandalika. Putri Mandalika  adalah seorang putri cantik yang arif sekaligus bijaksana dari seorang raja yang pernah memerintah di Pulau Lombok.
Cantiknya putri itu memukau banyak pangeran dan banyak dair mereka ingin meminangnya.  Saking baiknya, tak ada satu pun pangeran yang ditolaknya  ketika datang untuk melamarnya. Namun hal ini jusru menimbulkan kekisruhan yang berujung pada peperangan di antara pangeran-pangeran itu karena antara satu dengan yang lainnya ingin memiliki dirinya. Kontan, Putri Mandalika pun berpikir bagaimana caranya mengatasi ini semua.
Hingga datanglah acara yang dihadiri oleh para pangeran-pangeran itu.  Dalam suatu kesempatan Putri berorasi di hadapan kerumunan “Wahai, Ayahanda dan Ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai! Setelah aku pikirkan dengan matang, aku memutuskan bahwa diriku untuk kalian semua. Aku tidak dapat memilih satu di antara banyak pangeran. Diriku telah ditakdirkan menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan.”
 
Putri Mandalika pun memutuskan untuk menceburkan diri ke Pantai Selatan mengorbankan jiwa raganya agar peperangan itu tidak terjadi. Nah, setelah kejadian tersebut, setiap tahunnya munculah Nyale yang dipercaya sebagai jelmaan dari rambut Putri Mandalika.
Nyale kaya Protein
Setelah puncak festival Nyale digelar, warga yang berhasil mengangkap nyale kemudian mengkonsumsinya alias memasak nyale-nyale itu untuk dimakan bersama-sama. Menurut penelitian, Nyale yang ditangkap itu ternyata baik dikonsumsi oleh manusia karena kaya akan protein dan terbukti mengeluarkan zat-zat yang dapat membunuh kuman-kuman. (berbagai sumber)

Keberagaman dalam Hindu Bali




Bali di kenal dengan sebutan "Seribu Pura", memang betul karena Tuhannya orang Bali bisa dekat dan bisa pula jauh. Dikatakan bisa jauh, karena pada awalnya pemujaan berpusat pada Gunung Himalaya tempat berstananya SIWA personifikasi Tuhan Yang Maha Esa. Karena terlampau jauh, Gunung Himalaya didekatkan lagi ke Gunung Semeru, karena masih terasa jauh, umat Hindu di Bali mendekatkannya lagi kepada Gunung Agung yang tercermin dengan adanya Pura Besakih (Mother of temple) dimana di pura tersebut terdapat Pura Pedarman yang terdiri dari berbagai sekte/klan yang ada di Bali. Masih terasa jauh, didekatkan lagi dengan Pura Kawitan, Pura Kayangan Tiga di desa pekraman masing masing, sampai Sanggah Kemulan Taksu (Konsep Rong Tiga) di rumah masing-masing. Masih terasa jauh, maka disetiap kamar terdapat 'Pelangkiran' tempat memuja Tuhan, masih terasa jauh, orang Bali menemukan Tuhan di hatinya masing-masing.

Inilah keunikan dan kelebihan Hindu Bali yang fleksible dalam menyikapi perubahan. Filsafat orang Bali yang paling sering : "De ngaden awak bisa, depang anake ngadanin" merupakan cerminan sikap rendah hati yang tidak suka mengagung-agungkan kehebatan diri. Bairlah orang lain yang menilai.


Tidak heran sampai saat ini, Bali dijadikan tumpuan harapan bagi kaum urban untuk mencari sesuap nasi. Berbagai suku bangsa, agama dan kepercayaan saat ini di Bali, namun Bali tetap aman walau sudah pernah jadi korna Bom para kaum fanatis radikal. Orang Bali tetap tersenyum dan introspeksi diri, mungkin ada kesalahan yangdibuat dimasa lampau yang harus ditebus sekarang ini.

Kembali ke Pura dimana disetiap pura terdapat bangunan yang disebut Padma Sana, merupakan simbol dari Lingga dan Yoni yang mencerminkan penciptaan. Lingga dan Yoni dapat disimbolkan sebagai laki-laki (Lingga) dan perempuan (Yoni). Didirikan dibagian Timur Laut di setiap bangunan bali sebagai pemujaan tehadap Sang Hyang Surya. Pemujaan di Bali dilakukan setiap hari setiap saat. Pemujaan disini lebih luas artinya dari pada sembahyang, dimana pemujaan juga berarti mengingat nama Tuhan. Oleh karenanya banyak cara yang dilakukan umat Hindu Bali untuk mengingat Tuhan. Dapat dilakukan dengan Bhakti, Karma (perbuatan), Jnana (pengetahuan) dan banyaka cara lainnya.
 Dengan mengetahui cara orang berfikir, latar belakang dan masalah yang dihadapi, diharapkan seseorang menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan. Semoga tidak ada lagi kerusuhan yang diakibatkan masalah agama, suku dan aliran kepercayaan, karena kita hidup di bumu yang sama, dibawah matahari, bulan dan bintang yang sama. Kita semua bersaudara, aku adalah kamu kamu adalah aku.

Tradisi Ritual Bakar Tongkang

Ritual Bakar Tongkang atau Go Cap Lak (五月十六日) adalah sebuah ritual tahunan masyarakat di Bagansiapiapi yang telah terkenal di mancanegara dan masuk dalam kalender visit Indonesia. Setiap tahunnya ritual ini mampu menyedot wisatawan dari negara Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan hingga Tiongkok Daratan.
Bakar Tongkang di di Kabupaten Rokan Hilir
Bakar Tongkang
Upacara ini disebut Go Ge Cap Lak yang berate 15 dan 16 bulan 5 penanggalan imlek, Go Ge Cap Lak lebih terkenal dengan sebutan Upacara Bakar Tongkang. Even ini merupakan upacara pemujaan terhadap Dewa Kie Ong Ya dan Tai Sun Ong Ya yang dianggap berjasa menjaga keselamatn rombongan orang-orang cina yang menemukan Bagansiapiapi.

Menurut cerita, rombongan perantau Cina yang berlayar mencari daerah baru dengan beberapa perahu, akhirnya menemukan Bagansiapiapi. Ditempat ini mereka bersepakat untuk bermukim. Sebagai tanda terimakasih kepada Dewa Kie Ong Ya dan Tai Sun Ong Ya, masyarakat Cina Bagansiapiapi membakar replica kapal setiap tahunnya. Inilah yang kemudian dikenal dengan Upacara Bakar Tongkang.

Back To Top